Minggu, 17 Februari 2013
Harga yang Harus Dibayar Seorang Murid

“Setiap orang yang siap membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk. 9:62).

Kualitas kekristenan zaman dulu dan sekarang sangat berbeda, meskipun sama-sama disebut orang Kristen atau murid Kristus. Orang Kristen masa kini sangat dimanjakan dengan keadaan, kenikmatan dan kenyamanan. Ada orang Kristen yang datang ke gereja dengan jemputan, kalau tidak dijemput jangan harap ia datang. Layanan, perlakuan dan fasilitas sebuah gereja sangat menentukan loyalitas mereka. Bila gereja yang dianggap terlalu disiplin, berprinsip dan banyak tuntutan terhadap jemaat, sudah pasti gereja semacam ini akan ditinggalkan mereka. Paradigma kekristenan harus berubah sesuai arti seorang murid Kristus. Zaman dulu, kalau seseorang mau ikut Tuhan diuji habis-habisan. Yesus tidak memanjakan mereka dan membuat kemudahan-kemudahan untuk menjadi murid-murid-Nya, justru sebaliknya, mereka harus bayar harga untuk menjadi seorang murid Kristus yang sejati. Model murid seperti apa saja yang kita temui?

Murid pola New Age, siap ikut Tuhan asalkan ada entertainment, ada fasilitas, kenikmatan, kepuasan dan harapan-harapan yang menjanjikan masa depan. Maka “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi” (Luk. 9:57). “Rupamu,” barangkali demikian kata Yesus, karena engkau tidak tahu betapa besar risikonya mengikut Tuhan, dan betapa besar harga yang harus dibayar. Yesus berkata kepadanya: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:58). Karena Anak manusia sungguh miskin, Ia lahir di kandang binatang pinjaman (Luk. 2:7). Ia tidak memiliki uang sepeser pun, ketika Ia lapar, Ia cari makan gratis di jalanan (Mat. 21:19). Ia meminjam keledai orang kampung ketika memasuki kota Yerusalem (Luk. 19:30). Keburan pun Ia pinjam milik orang lain (Mat. 27:60). Jangan berpikir menjadi murid Tuhan bisa mendapatkan bermacam-macam kenyamanan dari-Nya, berjalan-jalan, bersenang-senang, berfoya-foya, hidup enak di mana-mana, no way.

Murid gaya postmo, bersedia ikut Tuhan, tetapi ada maunya. “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku” (Luk. 9:59) Kalau ada sambungannya mungkin sedikit menegur gurunya, “Tuhan kalau boleh Jangan terlalu legalisme, jangan mengekang kewajiban dan tanggung jawab seorang anak terhadap orang tua. Aku mohon Tuhan, beri kelonggaran sedikit padaku untuk membereskan urusan kematian bapaku kali ini.” Jawaban yang diharapkan adalah, “silahkan” selesaikan segera kewajibanmu. Ternyata tidak demikian! Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana” (Luk. 9:60). Inilah kewajibanmu, yang harus kau dahulukan sebagai murid Kristus.

Murid model Neo Evangelical, sudah siap bajak, siap kerja, siap terjun ke ladang, tetapi masih membuka peluang lain, masih memikirkan yang lain. Sepertinya sepele, cuma pamit sebentar sama keluarga masa tidak diizinkan. Tolerensi sedikit kenapa tidak? Ternyata Yesus tidak toleransi keinginannya dan menegurnya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk. 9:62). Kenapa banyak orang gagal jadi murid Kristus? Karena mereka mencoba memasang harga sendiri-sendiri, atau mengurangi harga seorang murid. Kerajaan Allah tidak boleh dinomor duakan atau dicampuradukan dengan kepentingan-kepentingan diri.

Betapa berat syarat dan harga seorang murid pada waktu itu. Mungkinkah ada murid sejati yang bisa ditemukan pada zaman sekarang? Kecuali mereka yang sungguh-sungguh mau membayar harga seperti rasul Paulus.

Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2014 GKA Gloria
 

Hubungi Kami