Minggu, 26 Februari 2012
Doa Murid Kristus yang Sejati

“Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tidak putus-putusnya untuk segala orang kudus" (Efesus 6:18)

Setelah Paulus menjelaskan panjang lebar, tentang bagaimana seharusnya orang Kristen menjalani kehidupannya sebagai murid Kristus, maka Paulus tidak alpa untuk mengingatkan, bahwa sejak mereka di dalam Kristus, “kehidupan mereka merupakan sebuah peperangan rohani.” Namun dalam peperangan rohani tersebut, Allah telah memberikan perlengkapan senjata rohani. Salah satu senjata rohani yang tidak boleh dilupakan orang Kristen adalah: “kehidupan doa.” Mengapa demikian?

Pertama, doa adalah wujud kebergantungan kita pada Tuhan dalam peperangan rohani. Dalam pasal 6:13-17, Paulus memaparkan 6 senjata rohani yang Allah berikan kepada kita, tetapi kemudian ia mengakhirinya dengan aktivitas “doa.” Apa maksudnya? 6 senjata rohani adalah sejanta untuk menangkis serangan Iblis; sedangkan “doa” adalah senjata untuk memberi kita kemampuan menggerakan 6 senjata tersebut. Di sini Paulus ingin menegaskan, bahwa pergumulan hidup orang Kristen, termasuk peperangan rohani, harus digumulkan melalui doa; sebab doa mengefektifkan perlengkapan senjata rohani yang Allah berikan. John Stott mengatakan, “Memperlengkapi diri kita dengan perlengkapan senjata Allah tidak terjadi secara otomatis, tetapi kita sendiri yang harus mengenakannya pada diri kita, dan itu adalah bukti bahwa kita mutlak dan pasrah kepada Allah, dan itulah doa.” Karena itu sebagai murid Kristus, kita harus memandang doa sebagai sesuatu yang urgent (mendesak dilakukan) dan signifikan (penting untuk dilakukan).

Kedua, doa dilakukan dengan bertekun dan terartur. Paulus menasihatkan jemaat Efesus agar mereka, “berjaga-jaga” dalam doa. “Berjaga-jaga” artinya “terus menerus secara teratur dan tekun.” Mengapa ini harus dilakukan? Dalam peperangan rohani adalah mustahil bagi kita untuk tetap kuat melawan Iblis dan sekutunya; jika kita tidak berdoa. Petrus telah mengingatkan kita, bahwa Iblis “sama seperti singa yang berjalan keliling, dan mengaum-ngaum” (1Ptr. 5:8). Artinya, melalui banyak cara, Iblis akan berusaha menjatuhkan kita. Jika kita tidak senantiasa berdoa, maka kita akan terlalu lemah untuk melawan Iblis dan sekutunya. Bahkan, Paulus sendiri menyadari, betapa lemahnya dirinya tanpa doa, sehingga ia meminta jemaat mendoakannya (ay. 19). Jadi doa adalah saat di mana kita mendapatkan pembaruan kekuatan dari Tuhan untuk melakukan peperangan rohani; dan ini harus dilakukan secara teratur.

Ketiga, doa secara mutual. Dalam nasihatnya, Paulus mengingatkan, agar jemaat Efesus berdoa bukan saja untuk diri sendiri, tetapi untuk saudara-saudara seiman lainnya. Ini berarti, doa murid Kristus bukanlah doa yang egosentris, tetapi mutualis, yaitu saling mendoakan di antara orang percaya, agar sama-sama dikuatkan. Saling mendokan ini penting, karena peperangan rohani yang terjadi, bukanlah peperangan antara diri kita sendiri dengan Iblis, tetapi antara “umat Tuhan” dengan Iblis dan sekutunya. Karena itu, doakanlah umat Tuhan lainnya, agar mereka kuat di dalam Tuhan dan memenangkan peperangan rohani.

Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2012 GKA Gloria
 

Hubungi Kami