“Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.” (Markus 12:42)
Dalam berbagai kepercayaan atau ritual agama, kita akan menemukan praktik-praktik persembahan yang beraneka ragam. Ada yang mempersembahkan hewan/binatang, perak, emas, uang, bahkan darah maupun tubuh manusia sebagai korban. Ritual persembahan dengan berbagai korban bisa berbeda makna, tergantung konsep persembahan yang dianut kepercayaan masing-masing. Bahkan, mengandung bermacam-macam motivasi persembahan yang dilakukan seperti berikut ini:
1. Persembahan timbal balik sebagai motivasi utama. Apa yang diberikan sebagai persembahan diharapkan diperoleh kembali, bahkan diharapkan lebih daripada yang diberi. Semakin besar jumlah persembahan yang diberikan, semakin besar pula tuntutannya. Konsep persembahan semacam ini seolah-olah memancing atau menyogok kepada yang menerima korban persembahan. Kadang, kita juga bisa terjebak dalam bentuk persembahan ini, sehingga kita bertanya dalam hati, “Kenapa Tuhan belum membalas?” setelah sekian lama kita menantikan balasan Tuhan.
2. Persembahan untuk mendapatkan kuasa/keahlian. Ada orang-orang tertentu mencari kuasa atau keahlian gaib dengan memberikan korban persembahan kepada roh halus atau arwah atau kepada berhala yang ia yakini. Apapun yang diminta, ia rela berikan sekalipun harus mempersembahkan anaknya sebagai korban, asalkan kuasa gaib bisa diperolehnya. Namun, praktik persembahan yang demikian adalah kekejian bagi Tuhan. Seperti yang tersirat dalam Ulangan 18:10-11, “Di antaramu janganlah didapati seorang pun yang mempersembahkan anaknya laki-laki atau anaknya perempuan sebagai korban dalam api, ataupun seorang yang menjadi petenung, seorang peramal, seorang penelaah, seorang penyihir, seorang pemantera, ataupun seorang yang bertanya kepada arwah atau kepada roh peramal atau yang meminta petunjuk kepada orang-orang mati.”
3. Persembahan balas jasa, sepertinya wajar, ketika seseorang menerima berkat dari Tuhan ingin membalas kebaikan Tuhan dengan memberikan persembahan sebagai tanda ucapan terima kasihnya kepada Tuhan. Semakin besar berkat yang diterima, semakin besar pula persembahan yang dikembalikan. Bagaimana jika berkat tidak kunjung datang? Kemungkinan besar tidak memberi persembahan. Sebenarnya, kita tidak mungkin bisa membalas jasa Tuhan, sekalipun harta benda kita berikan.
4. Persembahan iman, dengan kata lain persembahan yang tidak lahir dari iman, tidak diperkenan Tuhan. Kenapa Tuhan menerima persembahan Habel, tetapi tidak menerima persembahan Kain? Karena dengan iman Habel mempersembahkan miliknya, sedangkan Kain tidak (Kej. 4:4-5, Ibr. 11:4). Yang penting bukanlah bentuk, barang atau jumlah persembahan yang kita berikan, tetapi motivasi iman yang benar. Sekecil apapun persembahan kita, seperti persembahan si janda miskin, Tuhan tetap berkenan dan memuji persembahannya (Mrk. 12:42-44).
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index