Minggu, 08 Januari 2012
Pembaharuan Sikap Ibadah

“Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran" (Yohanes 4:24)

Setiap kepercayaan mempunyai bentuk dan cara beribabah. Bila kita amati cara ibadah kepercayaan yang berkaitan dengan penyembahan berhala, patung, atau dewa-dewa yang kelihatan secara fisikal, seolah-olah mereka sangat serius dan dengan sungguh hati menghadap “tuhannya.” Semakin besar “image” di hadapan mereka, baik itu mata, mulut, tangan, kaki atau bagian lainya, mereka tampak semakin serius dan sungguh-sungguh, apa lagi sorot matanya saling berpandangan. Dampaknya, secara psikologis mereka merasa ada kedekatan dan bisa curhat sepuasnya. Setelah menyembah yang “gitu-gituan,” mereka merasa lega dan terpuaskan secara psikologis. Bagaimana dengan sikap kita, ketika kita menyembah kepada TUHAN yang kita imani sebagai TUHAN yang benar dan hidup. Adakah sikap kita lebih benar daripada mereka? Perhatikan pengajaran Tuhan Yesus kepada orang Samaria, Ia memperbaiki dan memperbaharui konsep dan sikap penyembahannya.

Pertama, kita harus dapat membedakan TUHAN dan tuhan. Hakekat Allah yang adalah Roh berbeda dengan berhala, patung, atau dewa-dewa. Menurut Euhemorus filsuf dari Sisilia berkeyakinan bahwa dewa-dewa itu asalnya orang yang berkuasa, secara lambat laun diperdewakan. Terjadilah sebuah ritual yang memuja, mengagungkan, memuliakan dikarenakan perbuatan orang besar itu, termasuk peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kelahiran, kehidupan dan kematiannya. Sedangkan Herbert Spencer berpendapat bahwa semua dewa itu adalah para nenek moyang suku, pendiri suku, para penghulu yang menjadi popular dikarenakan kekuatan tenaganya, keberaniannya, perdukunannya atau pengaruh lainnya. Sehingga mereka bukan hanya waktu hidup dihormati dan ditakuti bahkan sesudah mati pun lebih ditakuti. TUHAN kita adalah pencipta langit dan bumi, berkat dan kesejahteraan hidup berasal dari-Nya (Mzm. 115:15). Dia Mahakuasa, Mahahadir dan Mahatahu, hanya kepada-Nyalah kita patut sujud menyembah tidak ada yang lain.

Kedua, kita harus bisa membedakan penyembahan yang bersifat rohaniah dan lahiriah. Manusia cenderung tertarik dan lebih suka hal yang kelihatan secara fisikal daripada yang tidak kelihatan atau yang rohaniah. Fokus penyembahan yang mengutamakan lahiriah bisa menyesatkan kita. Sebab Allah itu Roh, kita harus menyembah-Nya dengan roh dan kebenaran tidak lagi mengandalkan hal-hal lahiriah tetapi yang rohaniah. Tuhan menghendaki kesungguhan, ketulusan, kemurnian hati dan jiwa kita daripada hal-hal yang kelihatan atau lahiriah.

Ketiga, kita perlu memperbaharui bentuk dan cara ibadah kita kepada TUHAN. Segala cara dan bentuk ibadah kepercayaan lain tidak boleh diadopsi atau dikombinasikan untuk digunakan menyembah kepada TUHAN. Produk manusia adalah untuk menyenangkan manusia, hanya cara dari Allah yang dapat memperkenankan hati-Nya. Karena itu, Yesus menegaskan kepada perempuan Samaria, baik konsep, cara atau bentuk yang lama di Yerusalem atau Samaria tidak berlaku lagi. Kini Tuhan menghendaki penyembah-penyembah yang baru mengutamakan relasi dan iman yang benar. Di tahun yang baru ini, mari kita perbaharui konsep dan sikap ibadah kita kepada Tuhan, mulai dari hal yang kecil; tidak terlambat, tidak ngobrol atau ngantuk dalam beribadah. Tetapi nyatakanlah ibadah kita dengan semangat dan hidup.

Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2012 GKA Gloria
 

Hubungi Kami