Minggu, 16 Oktober 2011
Injil untuk Kaum Cendekiawan

“Dan juga beberapa ahli pikir dari golongan Epikuros dan Stoa bersoal jawab dengan dia …” (Kisah Para Rasul 17:18).

“Memberitakan Injil” merupakan tugas yang sangat mulia; karena tugas ini berkaitan dengan keselamatan jiwa-jiwa manusia. Sekalipun ini adalah tugas “mulia,” namun tugas ini juga penuh tantangan dan aniaya.

Ketika Paulus dan Silas memberitakan Injil di Tesalonika (Kis. 17:1-9), ternyata ada sejumlah orang yang menjadi percaya kepada Tuhan. Namun hal ini tidak menyenangkan bagi orang-orang Yahudi lainnya. Mereka iri dan berusaha mencelakai Paulus dan Silas. Bahkan seorang bernama Yason serta orang-orang yang menerima Paulus dan Silas dalam rumahnya, diperhadapkan kepada pembesar kota untuk di adili. Namun Tuhan memberikan hikmat kepada Yason untuk mempertanggungjawabkan masalah tersebut; hingga akhirnya mereka dilepaskan.

Dari Tesalonika, Paulus dan Silas berangkat ke Berea karena desakan saudara-saudara seiman, agar mereka tetap dapat memberitakan Injil di tempat lain. Ketika mereka sampai di Berea, Tuhan membuka jalan bagi Paulus dan Silas, sehingga banyak orang Yahudi Berea menjadi percaya, termasuk perempuan Yunani yang terkemuka di daerah itu. Namun sekali lagi tantangan dan ancaman tidak berhenti. Orang-Orang Yahudi Tesalonika yang mendengar Paulus dan Silas berada di Berea, datang dan menghasut orang-orang Berea, sehingga Paulus terpaksa meninggalkan Berea seorang diri dengan diantar beberapa saudara seiman, hingga tiba di Atena.

Secara kasat mata, Paulus nampak “melarikan diri,” tetapi sebenarnya tidaklah demikian, sebab ia tidak “meninggalkan pelayanan,” tetapi “melanjutkan pelayanan,” sebagaimana tugas yang Tuhan berikan kepadanya. Sebaliknya, justru melalui “pelarian diri” tersebut (menghindari keributan di Berea), Tuhan membawa Paulus sampai di pusat peradaban dan tempat cendikiawan orang Yunani, yaitu “Atena.”

Atena terkenal dengan orang-orang yang berpikir, orang-orang yang mencintai filsafat. Namun ironisnya, Atena juga penuh dengan berhala, sehingga ada pepatah mengatakan: “Di Atena, kita lebih mudah menemukan berhala, daripada orang!” Melihat kondisi ini, Paulus tidak tinggal diam. Ia sangat terbeban dan memakai kesempatan itu untuk memberitakan Injil kepada banyak orang, termasuk bersoal-jawab kepada orang Yahudi dan para cendikiawan/ahli filsafat dari golongan Epikuros dan Stoa. Apa yang Paulus lakukan dalam menghadapi kondisi religius dan orang-orang Atena yang tersohor “pandai?”

1) Kontekstualisasi. Paulus tidak menghina berhala mereka, tetapi mencari celah, bagaimana Injil bisa dikomunikasikan lewat dialog dan konsep keagamaan yang mereka percayai (Kis. 17:22-31). Paulus melakukan ini, karena mereka adalah orang-orang yang suka berpikir dan belajar hal-hal baru (Kis. 17:21). Dengan kontekstualisasi ini, Injil disampaikan dengan cara kondusif dan mudah dimengerti.

2) Berapologetika dan Bersikap Empati. Karena yang dihadapai Palus adalah orang-orang yang cendikia di Atena, maka ia berapologetika dengan bijak dan membuktikan bahwa Injil lebih superior dari kepercayaan mereka. Sekalipun ada yang mengejek, namun ada pula orang yang diteguhkan dan mengenal keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Mereka adalah Dionsius, seorang anggota Majelis Areopagus; dan Damaris (Kis. 17:34).

Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2014 GKA Gloria
 

Hubungi Kami