“Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" (Matius 6:3-4)
Doa adalah sesuatu yang sangat natural, kebutuhan dari seluruh umat manusia. Ketika menghadapi masalah/kesulitan dimana seolah-olah tidak ada lagi satu manusiapun yang sanggup menolong kita. Pada saat seperti inilah kita memikirkan suatu kuasa yang supranatural diatas kemampuan manusia, yang dapat melepaskan diri kita dari masalah dan kesulitan, dan saat seperti itulah sering kali tercetus akan ide dan kebutuhan doa.
Di dalam konsep Kristen doa bukan sekedar jalan pintas untuk mencari dan mendapatkan jawaban serta melepaskan diri dari masalah, lebih dari pada itu dikatakan doa adalah “napas hidup”, sesuatu yang sangat esessensi yang tidak boleh tidak ada di dalam hidup rohani kita. Doa menjadi syarat hidup dan barometer rohani anak Tuhan. Sayangnya sesuatu yang baik dan mulia ini telah di manipulasi sekelompok orang Farisi untuk menaikkan prestise dan “kesombongan rohani” di depan umat.
Orang Yahudi mempunyai waktu (jadwal) doa tetap, yaitu jam sembilan pagi, jam dua belas siang dan jam tiga sore. Doa yang dijadwalkan pada dasarnya adalah baik, tujuannya supaya kita mempunyai disiplin rohani dan menjadi gaya hidup. Namun tujuan ini akan melenceng ketika doa kita hanya untuk memenuhi target waktu yang sudah ditetapkan. Akhirnya menjadi satu risalah saja, apalagi tujuannya supaya kelihatan lebih rohani kalau sudah berdoa. Orang Farisi kalau sudah waktunya berdoa dan kebetulan mereka masih jauh dari tempat ibadah maka mereka akan berdoa dimana saja, khususnya di perempatan jalan di tengah keramaian sehingga semua orang dapat melihat praktik rohani mereka.
Memang benar di manapun kita boleh berdoa pada Tuhan, namun bukan sekadar memenuhi target waktu yang sudah ditetapkan, Tuhan tidak pernah menuntut kita berapa kali kita harus berdoa secara formal, namun bagaimana kedekatan kita dan kebutuhan kita untuk selalu berjalan bersama Tuhan membuat kita untuk selalu bersekutu dengan Allah di dalam doa.
Kesalahan yang lain dari orang Farisi dalam hal doa adalah bukan saja menyangkut tempat doa tapi juga isi doa mereka yang cenderung panjang-panjang. Tuhan Yesus katakan: “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” Tentu Yesus tidak bermaksud mengatakan tidak boleh berdoa yang lama, sesuaikanlah dengan kebutuhan. Kalau tidak perlu berlama-lama mengapa harus berlama-lama? Seorang pengkhotbah pernah mengapatakan: Orang yang dekat dengan Tuhan akan menggunakan waktu doa pribadi yang panjang, dan menggunakan waktu doa pribadi yang pendek di depan umum.
Mari kita mengoreksi kehidupan doa kita saat ini, apakah kehadiran kita di dalam kegiatan-kegiatan doa di gereja selama ini hanya untuk memenuhi target waktu doa? Sudakah kita mempunyai kehidupan doa pribadi yang baik dan benar di hadapan Allah?
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index