Minggu, 05 September 2010
Bahaya Mencari Pujian Lewat Persembahan

“Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu" (Matius 6:3-4)

      Setiap agama di dunia memiliki sistem ritualnya masing-masing; salah satunya adalah memberi sedekah atau persembahan. Dalam konteks Yudaisme pada masa Tuhan Yesus, sistem ritual keagamaan tertinggi yang dipandang sebagai bukti kesalehan seseorang adalah memberi sedekah, berdoa dan berpuasa.

      Dalam Matius 6:1-18, ketiga ritual Yudaisme, yakni memberi sedekah, berdoa dan berpuasa menjadi pokok pembicaraan Tuhan Yesus dalam kotbah-Nya di atas bukit. Hal pertama yang Tuhan Yesus koreksi adalah masalah memberikan sedekah/persembahan. Mengapa Tuhan Yesus melakukan hal ini? Apa yang salah dari ritual yang dilakukan orang Yahudi pada zaman-Nya; dan bagaimana pula seharusnya seseorang menjalankan ritual keagamaan dalam hal memberi sedekah atau persembahan?

      Pertama, sikap yang salah dalam menjalankan ritual keagamaan. Tuhan Yesus tidak melarang orang Yahudi memberi sedekah, tetapi motif atau alasan mereka memberi sedekah telah jauh dari kebenaran Allah. Dalam ayat 1, Tuhan Yesus telah mengingatkan kepada para pendengarnya, bahwa apa yang benar dan yang berkenan kepada Allah harus dilakukan sesuai dengan kehendak-Nya, dan selalu dihubungan dengan kemuliaan bagi Tuhan (Pribadi Tuhan). Artinya, apapun yang mereka lakukan dalam menjalankan ritual keagamaannya, semuanya harus berfokus dan berorientasi pada Allah sendiri. Dengan kata lain, orang Yahudi pada masa itu, telah melakukan yang baik, karena mereka telah memberikan sedekah, yang menunjukkan ketaatan mereka dalam beribadah. Namun sayangnya, mereka telah melakukannya dengan alasan dan dasar yang salah. Mereka mau melakukan itu karena mereka berusaha mencari pembenaran dan penilaian manusia tentang kesalehan diri mereka.

      Beberapa penafsir Alkitab berpendapat, bahwa audiens/orang yang Tuhan Yesus maksudkan dalam ajaran-Nya ini adalah para ahli Taurat dan Farisi atau pemuka agama; karena merekalah yang sering kali memakai ritual keagamaan untuk mencari simpati dan pujian dari masyarakat Yahudi. Motif yang salah ini, nampaknya berdampak pada sikap yang salah pula dalam menjalankan ritual keagamaan mereka. Ini terbukti dari kebiasaan yang dilakukan para pemuka agama yang suka menunjukkan ibadahnya di lorong-lorong jalan untuk mencari pujian dari orang-orang yang melihatnya (ay. 2).

      Kedua, sikap yang benar dalam menjalankan ritual keagamaan. Setelah Tuhan Yesus mengkritik motif dan cara yang salah dalam menjalankan ritual keagamaan; maka Ia memberikan sikap yang benar dalam menjalankannya. Bagaimana sikap yang benar itu? Tuhan Yesus berkata: “jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat oleh tangan kananmu; dan hendaklah itu diberikan dengan tersembunyi; maka Bapamu yang melihatnya akan membalasnya kepadamu” (ay. 3-4). Perkataan Tuhan Yesus ini jelas berbentuk figuratif/metafora; sehingga yang dimasud-Nya adalah ketika kita memberi sedekah atau persembahan, yang mendorong kita untuk melakukannya, bukan untuk mencari pujian dari manusia (kontras dengan ay.2); tetapi pujian dari Bapa di sorga. Demikian pula, sedekah kita bukan untuk memegahkan/ menyombongkan diri sendiri dihadapan orang lain, yang dimetaforakan “tangan kiri,” tetapi untuk memegahkan Tuhan. Maka Bapa yang disorga, yang melihat hal ini, yaitu motif yang benar, cara yang benar, dan tujuan yang benar; yang sesuai kehendak-Nya, akan memperkenan ibadahnya dan memberinya berkat. Amin.

Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2012 GKA Gloria
 

Hubungi Kami