Minggu, 25 Juli 2010
Kasihi Musuhmu

"Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Matius 5:44)

      Yang Tuhan ajarkan di sini berhubungan dengan bagian sebelumnya yang berbicara tentang melepaskan hak. Bagian itu (Matius 5:38-42) secara negatif mengajar orang tidak mendendam dan menuntut balas, tapi itu saja tidak cukup untuk mewujudkan karakter Kristen yang sebenarnya. Di sini, Matius 5:43-48 secara positif Tuhan mengajarkan sesuatu yang harus terjadi juga secara aktif, yaitu kita harus mengasihi mereka yang tidak patut dikasihi. Alasannya jelas, sebab Bapamu di Sorga melakukan itu kepada orang-orang berdosa, dan kamu adalah anak-anak-Nya. Sebagaimana sifat Bapamu, kamu pun harus demikian.

      Allah tidak membenci orang karena status, tapi karena dosa. Dia tetap membuat matahari bersinar dan mencurahkan hujan bagi semua orang, Dia juga tetap memberkati hidup manusia di dalam anugerah umum-Nya. Bukan berarti Allah tidak menindak dosa dan kejahatan. Ketika orang berdosa dengan kekerasan hatinya terus menolak Tuhan, suatu ketika Dia akan menindak. Itu adalah hak-Nya. Setiap kesempatan yang diberikan kepada orang berdosa, itulah yang memancarkan kasih dan panjang sabar-Nya, dan itu harus menjadi warna kehidupan anak-anak-Nya. Kalau kita hanya mengasihi orang yang berbuat baik kepada kita, itu bukan sifat Kristen karena siapa pun bisa melakukannya, bahkan seorang berdosa seperti pemungut cukai. Anak Tuhan tidak mungkin hidup dengan standar serendah itu, anak Tuhan harus hidup dengan standar Tuhan. Karakter Kristen yang sejati adalah memancarkan karakter Kristus, karakter Allah sendiri. Di tengah-tengah kehidupan dunia yang berdosa, orang Kristen dipanggil untuk hidup dengan karakter Allah. Sebagai anak Tuhan, kita tidak punya alasan untuk membenci mereka, tapi justru harus mengasihi dan mengasihani mereka. Kalau Allah sendiri, dengan kasih-Nya memberkati kehidupan manusia, maka kita juga harus memiliki hati seperti itu.

      Allah memandang ke bawah dan Dia melihat kehidupan manusia yang penuh dengan dosa dan kejahatan. Allah melihatnya sebagai akibat dari terbelenggunya manusia oleh si setan, dan kasih-Nya yang besar tercurah bagi orang berdosa. Allah mengasihi manusia berdosa sedemikian besar, sehingga dia mengorbankan Anak-Nya sendiri bagi mereka. Cara Allah menilai manusia mewujudkan tindakan luar biasa seperti itu, dan Tuhan mau supaya anak-anak-Nya bersikap seperti Dia. Jadi, hanya ada satu dasar bagi seseorang untuk dapat mengasihi sesamanya sebagaimana dirinya sendiri. Dan saudara tahu apa itu, karena Yesus telah menyatakannya kepada saudara: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu.” (Lukas 10:27).

Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2012 GKA Gloria
 

Hubungi Kami