| Minggu, 18 Juli 2010
Melepaskan Hak
"Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu" (Matius 5:39)
Ajaran Musa dalam Kel.21:24; Im.24:20 dan Ul.19:21 menyatakan beberapa prinsip dasar: pertama, untuk menegakkan keadilan; orang yang bersalah harus dihukum. Kedua, untuk mencegah ekses berlebihan bagi pihak yang dirugikan, mengingat sifat manusia yang cenderung membalas lebih dari pada yang diterima. Ketiga, ini adalah wewenang yang diberikan kepada hakim untuk melaksanakan hukuman demi menegakkan keadilan, dan bukan diberikan kepada pribadi. Hukum ini diberikan supaya orang tidak berani sembarangan melanggar, sekaligus juga untuk melindungi pihak yang bersalah supaya tidak diganjar berlebihan, dan hanya pihak yang sah saja yang berhak memutuskan hukuman.
Kesalahan ajaran ahli Taurat adalah bahwa mereka tidak menangkap maksud dari hukum tersebut, tapi menerapkannya secara pribadi dalam semangat legalisme; menerapkan hukum tersebut sebagai sarana untuk menuntut hak. Dengan hukum itu, mereka merasa sah untuk membalas tindakan orang yang merugikan dirinya. Semangat membalas bukan direduksi tapi justru dianggap sebagai hak, dan diterapkan secara pribadi.
Yang Tuhan ajarkan di sini bukanlah ditujukan kepada pemerintah atau orang dunia, tapi kepada anak-anak Kerajaan Allah, di dalam aspek hubungan secara pribadi dan bukan sebagai tanggung jawab sebagai warga terhadap hukum negara. Ajaran ini berbicara bagaimana seorang anak Allah bersikap terhadap orang lain yang merugikan dirinya, bukan yang mencakup tindakan membunuh tapi berbicara tentang berbagai kejahatan yang sering terjadi secara umum dalam kehidupan sesehari, jadi bukan kejahatan tanpa batas. Orang yang sadar kemiskinan dirinya, yang sadar keberdosaannya, yang kehausan hatinya adalah untuk hidup dalam kebenaran, yang murah hatinya—tidak akan menuntut haknya atas orang lain! Di dalam kehidupan yang sudah cemar dosa ini, anak-anak Tuhan tidak mungkin bisa terhindar dari tindakan atau perbuatan orang lain yang merugikan bahkan menyakiti dirinya, bahkan dia sendiri juga tidak terluput dari kesalahan. Tapi karakter Kristen harus selalu mewarnai kehidupannya.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index
|
|