Minggu, 06 Juni 2010
Kriteria Kesalehan yang Sejati

“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 5:20)

      Pada awal zaman PB, kedudukan orang Farisi dan ahli Taurat di tengah masyarakat Yahudi sangatlah terpandang bahkan dianggap sebagai kelompok yang rohani dan kudus serta memiliki kekuatan pengaruh politis yang besar. Mereka adalah golongan yang berjuang untuk menjadikan kebajikan moral dan etis menjadi tujuan utama hidup mereka dalam bentuk perbuatan. Bahkan J. Sidlow Baxter, menyebut orang-orang Farisi ini sebagai suatu kaum ritualis, yakni kaum yang sangat mementingkan detail-detail ritual, formalitas-formalitas ibadah, aturan-aturan hitam di atas putih yang mengatur segala kehidupan orang Yahudi pada saat itu khususnya yang menyangkut kehidupan beragama. Bahkan ada orang yang mengatakan bahwa orang Farisi mempunyai hak begitu besar sehingga dia dapat menambahkan hukum demi hukum dalam hukum Taurat secara lisan.

      Namun dalam pelayanan dan pengajaran Kristus, kepada merekalah Tuhan begitu sering mengoreksinya, bukan karena mereka tidak menyukai Kristus sehingga Tuhan mengoreksi mereka, tetapi karena mereka ini adalah pemimpin yang diteladi banyak orang. Kepada para murid-Nya Tuhan menyatakan bahwa mereka harus lebih baik dari para ahli Taurat dan orang Farisi dalam hidup keagamaan. Tuntutan ini sungguh mengharuskan kita, anak-anak Tuhan untuk meninjau kembali pemahaman kita tentang hal-hal keagamaan. Apakah konsep kita tentang kesalehan dan kesucian yang sesungguhnya? Dan apa yang kita pahami tentang kekristenan?

Dalam Matius 23:23 Tuhan Yesus berkata, "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu; keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan." Kalimat "Yang satu harus dilakukan" berarti, "Ya, kamu benar dalam memberikan persepuluhan. Kamu benar dalam berpuasa. Kamu sepatutnya melakukan hai ini. Tetapi tidak seharusnya kamu mengabaikan yang lain."

Perhatikan bahwa Tuhan Yesus tidak berkata bahwa tidak perlu melakukan semua itu, tidak berkata bahwa mereka seharusnya hanya memperhatikan keadilan dan belas kasihan dan kasih kepada Tuhan. Tidak demikian! Dia berkata, "Kamu sudah benar dalam melakukan hal-hal ini," tetapi itu tidak cukup. Karena kesalehan yang sesungguhnya adalah bersifat internal, menyangkut relasi yang intim dengan Tuhan dengan memfokuskan hidup untuk kemuliaan Tuhan, dan bukan seremonial yakni dengan melakukan upacara keagamaan secara ketat, yang tujuan akhir dari semua usaha mereka adalah untuk kemuliaan diri sendiri, supaya dipuji.

Kesimpulan dari semua ini adalah Tuhan ingin kita dalam hidup motivasi yang murni/kudus, lebih menekankan prinsip ajaran-Nya dari pada melakukan segala tuntutan seremonial keagamaan. Di sini jelas bahwa hidup orang Kristen tidak saja diuji secara doktrin, tapi dituntut untuk hidup dalam kebenaran. Tanpa bukti ini, kita hanya sedang menipu diri sendiri.

Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2012 GKA Gloria
 

Hubungi Kami