Minggu, 21 Februari 2010
Dukacita yang Mendatangkan Penghiburan

"Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur." (Matius 5:4)

      Biasanya "bahagia" dikaitkan dengan "sukacita", bukankah sangat ironi justru di sini dikatakan bahwa orangyang berduka cita adalah bahagia? Apakah memang dukacita merupakan bagian dari kehidupan kekristenan? Bukankah Alkitab memerintahkan agar kita bersukacita senantiasa? Bagaimana mengharmoniskan antara "sukacita" dan "dukacita" yang keduanya dicatat dalam Alkitab. Yang sangat mengherankan, bukan saja orang Kristen yang bisa berdukacita, bahkan Alkitab mencatat Allah Tritunggal juga bisa berdukacita.

      Ketika kejahatan manusia makin besar di muka bumi ini, hati Allah Bapa sangat berdukacita (Kejadian 6:6). Ketika Allah Anak menghadapi salib untuk menanggung dosa umat manusia, hati-Nya sangat berdukacita (Matius 26:37-38). Karena perbuatan dosa kita, Allah Roh Kudus berduka cita (Efesus 4:30). Kesimpulannya, dosa manusia sangat mendukakan hati Allah Tritunggal.

      Banyak hal yang menyebabkan orang Kristen berdukacita, tetapi jika dikaitkan dengan ayat di atas yang mengatakan: "karena mereka akan dihibur" minimal ada 2 hal yang menyebabkan orang Kristen berdukacita:

      (1) Pertobatan. Ketika Daud berzina dengan Batsyeba, Tuhan mengutus nabi Natan untuk menegurnya dengan keras, Daud hatinya hancur, sangat berdukacita dan bertobat sungguh-sungguh di hadapan Tuhan mohon pengampunan. Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kau pandang hina, ya Allah. (Mazmur 51:19). Ketika Roh Kudus menegur kita melalui Firman-Nya, kita ditelanjangi dari semua dosa dan perbuatan yang selama ini kita sembunyikan, maka dengan rendah hati kita harus bertobat di hadapan Tuhan dan kita akan beroleh penghiburan yang sejati. Pertobatan yang bukan sekedar 'lip service' di hadapan manusia, melainkan sungguh berasal dari lubuk hati kita yang terdalam.

      (2) Penginjilan. Ketika Paulus melihat kekerasan hati bangsanya, hatinya sangat berdukacita. "Bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku mau terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku secara jasmani (Roma 9:2-3). Jika pada hari ini banyak orang Kristen berdukacita karena hal-hal yang lahiriah dan sementara, Paulus setiap saat berdukacita justru bukan untuk kepentingan dirinya sendiri, melainkan untuk keselamatan bangsanya.

      Mari kita interospeksi diri, mengapa hari ini kita berdukacita? Dukacita kita berorientasi pada Tuhan atau pada diri sendiri? Untuk hal-hal dunia yang sementara? Untuk kepentingan ego kita sendiri? Atau untuk pertobatan dan penginjilan? Kiranya Roh Kudus memberi pencerahan dalam hati kita, amin.

Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2010 GKA Gloria
 

Hubungi Kami