"Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya." (Matius 7:8)
Khotbah hari Minggu beberapa bulan ke depan akan membahas Khotbah di Bukitsecara spesifik, seperti yang tercantum dalam Injil Matius pasal 5-7. Perlu diketahui bahwa baik Matius maupun Yesus sendiri tidak pernah menyebut bagian itu sebagai "Khotbah di Bukit." Istilah Khotbah di Bukit tersebut muncul pertama kali dalam karya Agustinus, seorang teolog dari Hippo (354-430). Sebutan itu menjadi populer dan digunakan sepanjang zaman, karena dianggap cocok/sesuai dengan pangajaran-pengajaran yang disampaikan Yesus berada di lokasi bukit. Sebutan lain yang lazim dipakai adalah "Bukit Ucapan Bahagia" yang menurut tradisi terletak di pantai utara Danau Galilea. Namun, dalam komentari Tyndale mengatakan, "The mountain is not a specific place, but a general term." Bisa diartikan bukit, tapi tidak satu tempat saja (bdk. 14:23; 15:29; 28:16 dengan. 4:8; 17:1).
Deskripsi pengajaran Khotbah di Bukit oleh Tuhan Yesus memuat dua aspek yang fundamen. Aspek yang pertama, adalah mengenai Kerajaan Allah. Hal Kerajaan Allah merupakan tema yang penting dalam pelayanan Tuhan Yesus. Matius sangatmemperhatikan dan dengan serius ia mencatat, "Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; la mengajar dalam rumah-rumah ibadah dan memberitakan Injil Kerajaan Allah" (Mat. 4:23). Dia berkata, "Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat" (Mat. 4:17). Kerajaan Allah sudah datang di dalam diri Tuhan Yesus. Setiap orang yang beriman dan percaya kepada Tuhan Yesus akan masuk ke dalam kerajaan-Nya dan menjadi milik-Nya. Semua yang menjadi anak-anak-Nya adalah warga Kerajaan Sorga dan masuk dalam tatanan baru atau ciptaan baru di dalam Kristus. Jadi, dapat disimpulkan bahwa Khotbah di Bukit memang dimaksudkan untuk menunjukkan kuasa Tuhan Yesus, yang mana khotbah tersebut merupakan perwujudan dari diri Tuhan Yesus sendiri. Agar setiap warga Kerajaan Allah dapat mewujudkan pola hidup yang agung dari suatu sikap hidup baru yang di dalam kerajaan baru, yang di dalamnya kita menjadi bagiannya.
Kedua, penekanan dari ajaran Khotbah di Bukit bukan sekadar konseptual atau bersifat doktrinal belaka. Tetapi lebih merupakan perwujudan yang konkret dari setiap warga kerajaan baru terhadap setiap ucapan/perkataan yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Dimensi spiritualitas dari sikap hidup yang baru harus dinyatakan secara nyata melalui karakter-karakter kristiani yang luhur itu ke dalam dunia yang sementara. Kehidupan yang kontras dengan orang dunia ini adalah menyatakan otentisitas karakter kristiani yang sejati. Misalnya, "Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu. Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu" (Mat. 5:43-44). Signifikansi Khotbah di Bukit adalah pengajaran Tuhan Yesus tentang bagaimana seharusnya seorang Kristen hidup.
Orang Kristen yang mengabaikan ajaran Khotbah di Bukit berarti mengabaikan karakter kristiani yang esensial. John Sott mengatakan, "Khotbah di Bukit merupakan bagian yang mungkin paling dikenal orang dari seluruh ajaran Tuhan Yesus, meskipun barangkali yang paling tidak dimengerti, dan pasti yang paling tidak ditaati. Hendaknya, kita bukan hanya mewujudkan ajaran Yesus dengan nyata, tapi juga mengakui Yesus sebagai Tuhan lebih daripada apapun. Kiranya melalui pengajaran Tuhan Yesus membawa pembaruan iman dan karakter setiap kita, dengan demikian orang dapat mengenai Kristus melalui kehidupan kita.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index