"Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan." (Lukas 2:6-7)
Injil mencatat bahwa kelahiran Yesus tidak di tempat semestinya yang manusiawi, melainkan dibaringkan di palungan karena tidak ada penginapan yang menampungnya. Sungguh ini merupakan situasi yang sangat ironis jika dipandang dari segi kemapanan dunia ini, sebab kelahiran sang Raja semesta tidak mendapatkan tempat yang seharusnya. Tentu kita mempertanyakan mengapa Yesus harus dilahirkan dan dibaringkan di palungan. Konsep yang sudah mengakar dalam kebudayaan kekristenan kita tentang palungan menunjuk kepada tempat "makanan" bagi hewan ternak. Jika demikian, maka kita menyimpulkan betapa bersahajanya kehidupan keluarga Yesus.
Sebaliknya hal yang patut dipertanyakan adalah apa yang menyebabkan orangtua Yesus tidak mendapatkan tempat penginapan. Apakah karena mereka tidak memiliki cukup biaya untuk membayar penginapan yang diperlukan, sementara itu apakah sedemikian miskinnya keluarga Yesus? Konsep berpikir kekristenan sudah mengakar bahwa keluarga-Nya begitu miskin. Tetapi melihat kepada kerabat keluarga Maria, yaitu Elizabeth sebagai keluaga imam, tentu kemiskinan bukan keadaan yang sebenarnya dari keluarga Yesus, sekalipun bukan berarti keluarga Yesus sangat berada.
Karena itu kemungkinan yang terjadi dengan tempat penginapan adalah "padatnya" perkunjungan ke Betlehem karena perintah sensus kependudukan. Sekalipun orang Yahudi memiliki kultur kebiasaan untuk memberikan tumpangan bagi sesamanya, apalagi bagi kerabatnya, namun padatnya perkunjungan tidak memungkinkan daya tampung seluruh rumah penduduk. Sebaliknya, karena masuknya budaya Yunani dan Romawi dengan lintas perdagangannya, maka setiap kota perlintasan sekalipun hanya kota kecil, tentu akan memiliki tempat penginapan. Namun dengan alasan kepadatan itulah, maka tidak ada tempat bagi-Nya
Seluruh situasi ini bukan suatu kebetulan, tetapi merupakan suatu setting dari rencana Allah untuk menyatakan sifat "kehambaan" Yesus, yang merendahkan diri-Nya sedemikian. Seolah tidak ada tempat yang layak di dunia ini bagi-Nya. Ini menyatakan dunia yang tidak pernah peduli dengan Penciptanya ketika Dia datang. Namun ini menyatakan pula bahwa Dia, sang Pencipta, amat peduli dengan dunia ini, sehingga Dia mau datang, sekalipun mendapatkan tempat yang kurang pantas.
Sudahkah kita, orang Kristen, menyediakan tempat bagi-Nya? Hati manusia sekalipun kecil di dalam perbandingan dengan organ tubuh lainnya, namun kualitas hati tidak bisa diukur dengan kuantitas harta di dunia ini, kecuali dengan dipenuhi oleh Yesus yang menyegarkan dan memuaskan jiwa kita.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index