| Minggu, 01 Februari 2009
Allah yang Mahatahu
"Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi." (Mazmur 139:2-3)
Suatu kali seorang guru meminta murid-muridnya menuangkan dalam bentuk gambar apa yang mereka ketahui tentang Tuhan. Salah seorang anak menggambar 'mata.' Lalu guru meminta murid tersebut menjelaskannya dan sang murid berkata: "saya menggambar mata karena Tuhan melihat dan tahu semua tentang saya." Ya benar Allah Mahatahu.
Kata Mahatahu menurut RC Sproul artinya "memiliki semua pengetahuan." Pemazmur menyatakan bahwa Allah Mahatahu (ayat 1-6). KeMahatahuan Allah sangat terkait dengan atribut Allah yang lain yaitu Allah Mahahadir (ay. 7-12) dan Allah Pencipta (ay. 13-18).
Pengetahuan dan pengakuan iman ini lahir di tengah kondisi pemazmur susah dan gundah (karena pada waktu itu menghadapi orang fasik, penumpah darah, pendusta dan sesungguhnya mereka adalah musuh Allah). Pengenalan yang demikian kepada Allah membuat pemazmur berkata: "Selidikilah aku yang Allah, dan kenallah hatiku; lihatlah apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal (ayat 23-24). Pemazmur berani membuka diri di hadapan Allah yang Mahatahu, Mahahadir dan Allah pencipta untuk menyelidiki, bila ada pikiran, perkataan, perbuatannya salah, dan membuat hati Tuhan susah, mohon Tuhan menuntun di jalan yang kekal/benar. Pelajaran yang bisa kita dapatkan dari Firman Tuhan ini adalah:
• Penghiburan —
Kemahatahuan Allah membuat tidak ada satupun dalam hidup kita yang terluput dari pengetahuan-Nya, termasuk juga kesusahan, tekanan, permasalahan atau apapun yang menimpa kita. Sungguh merupakan suatu penghiburan bagi kita yang saat ini menghadapi kesusahan oleh sesuatu sebab, mengingat bahwa Allah yang Mahatahu mengetahui apa yang sudah, sedang, bahkan akan kita alami. Dan Allah yang Mahatahu itu sekaligus adalah Allah yang Mahahadir, yang selalu ada bersama-sama dengan kita dan mendampingi kita dalam menghadapi segala permasalahan kita. Bila kita menghadapi kesulitan karena melakukan kebenaran, nantikanlah waktu dan cara Tuhan, tugas kita adalah bertekun dalam kebenaran.
• Peringatan —
Kemahatahuan Allah seyogyanya membuat kita hidup dengan hati yang takut di hadapan-Nya. Di dalam segala segi hidup kita; dalam kita bertindak, berpikir, berbicara, beribadah, melayani dan hal-hal lainnya... biarlah ada hati yang tulus, benar dan hormat kepada-Nya. Di hadapan manusia kita dapat berdalih untuk membenarkan segala pikiran, perkataan atau perasaan kita, tapi tidak ada sesuatupun yang dapat mengelabui Allah yang Mahatahu. Biarlah kita senantiasa memohon seperti pemazmur, "Selidikilah aku yang Allah, dan kenallah hatiku; lihatlah apakah jalanku serong dan tuntunlah aku di jalan yang kekal (ay. 23-24), senantiasa memeriksa hidup di hadapan-Nya, mengakui segala kesalahan kita dan memohon pengampunan-Nya. Ingat, Tuhan Mahatahu dan pada waktu-Nya Dia akan bertindak.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index
|
|