Selasa, 14 September 2010
Berdiri Dengan Dua Kaki

Bacaan hari ini: 2 Timotius 1:8-14
“Aku menderita semuanya itu, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku.” (2 Timotius 1:12)

Untuk menjadi orang Kristen kuat, kita perlu pengetahuan Alkitab dan pengalaman rohani yang baik. Tapi, bergantung hanya pada salah satunya saja, itu sama halnya dengan mencoba berdiri pada “satu kaki.” Dalam 2 Timotius 1 ini kita mengetahui, bahwa Paulus dapat bersaksi dan mampu menghadapi penderitaan, karena ia berpijak pada kebenaran-kebenaran iman Kristen (ay. 13) dan dalam relasi yang dinamis bersama Tuhan Yesus (ay. 12).

Seorang pria bernama Bob memiliki keadaan emosi dan rohani yang naik-turun karena ia mengandalkan pengalaman hidupnya. Dulu dia adalah seorang yang sedemikian rusak, kemudian bertobat, dan menerima Yesus Kristus. Hidupnya berubah secara dramatis, menjadi seorang saksi yang penuh semangat. Namun demikian, ia tidak mempelajari Alkitab dengan sungguh-sungguh, sehingga tampak tidak mantap.

Sebaliknya, istri Bob ini benar-benar teguh, tetapi ia tidak mempunyai semangat sebesar Bob. Dia adalah seorang Kristen sejak kecil, yang terus dibina, sehingga pada akhirnya yakin pada kebenaran iman Kristen melalui banyak belajar Alkitab. Namun, dia jarang berbicara tentang Tuhan Yesus pada orang lain. Hampir-hampir tidak pernah memberi kesaksian dengan sukacita tentang jawaban doa, dsbnya.

Di sini, Bob perlu mempelajari Alkitab untuk mengetahui apa yang ia imani dan mengapa ia mengimaninya. Sang istri, perlu mengembangkan pengalaman dengan lebih banyak berdoa dan berbagi pengalaman rohani lainnya. Dengan kedua pijakan tersebut, maka orang Kristen sama seperti orang yang “berdiri dengan dua kaki,” yakni kokoh berdiri.

Menjadi orang Kristen yang hanya bergantung pada pengalaman rohani saja, dapat menyebabkan diri tidak memiliki dasar kebenaran yang kokoh sebagai landasannya; sebab ia akan terdorong untuk mengabaikan Alkitab, firman Tuhan sendiri. Sebaliknya, orang yang belajar Alkitab, tanpa memiliki pengalaman rohani, pengetahuan membuatnya tidak kaya dalam pengalaman rohani. Karena itu, keduanya tidak dapat dipisahkan!

STUDI PRIBADI: Apa bahaya dari seseorang yang hanya menekankan pengalaman rohani saja, tanpa belajar Alkitab? Atau sebaliknya, belajar Alkitab, tanpa pengalaman rohani?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat agar mereka tidak hanya mengukur hidup rohaninya berdasarkan pengalaman tanpa mau mendasarkannya pada Firman Tuhan. Kita sadar bahwa firman Tuhan yang hidup dapat menuntun langkah kita.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2012 GKA Gloria
 

PERSPEKTIF hari ini
Hubungi Kami