Kamis, 01 Juli 2010
Anti Klimaks

Bacaan hari ini: 1 Raja-raja 19:1-8
“Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya...” (1 Raja-raja 19:3a)

Pada bagian ini, kita melihat suatu peristiwa yang ganjil, di mana Elia melarikan diri dan ingin bunuh diri. Hal ini ganjil, karena sebelumnya Elia baru saja mengalahkan dan menyembelih nabi-nabi baal yang sejumlah 450 orang. Ini adalah kemenangan yang luar biasa. Tapi, akibat kemenangan ini, Raja Ahab mengadukan peristiwa itu pada istrinya, Izebel. Sehingga, Izebel mengancam Elia demikian, “Beginilah kiranya para allah menghukum aku... jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu” (ay. 2).

Menghadapi perempuan Izebel ini, Elia lari ketakutan, padahal ia baru saja mengalami mujizat Allah! Mengapa hal ini bisa terjadi? Jika kita teliti, kita dapat melihat bahwa dalam peristiwa ini, Elia tidak mencari pertolongan Tuhan. Jelas dikatakan bahwa ia mencari jalan keluar sendiri, dengan cara “pergi menyelamatkan nyawanya.” Mengapa Elia berjuang seperti ini? Satu hal yang dapat kita simpulkan dari peristiwa ini adalah, bahwa kebesaran seseorang di masa lampau tidak menentukan kebesarannya pada masa sekarang ataupun untuk masa mendatang. Kebesaran itu bergantung dari bagaimana hubungannya dengan Tuhan.

Pada waktu Elia mengalami krisis hubungan dengan Tuhan, ia mengandalkan dirinya sendiri. Elia menganggap bahwa ia dapat menyelesaikan masalahnya dengan Izebel dengan kekuatannya sendiri. Namun demikian, kita melihat adanya anti klimaks dari usaha Elia, bahwa bukan keselamatan yang diperoleh, malahan beroleh kesengsaraan, depresi dan akhirnya ingin mati. Ini adalah gambaran dari usaha manusia yang mengandalkan dirinya sendiri, bahwa ia akan mengalami anti klimaks, yakni bukan penyelesaian, tetapi sebaliknya, jalan buntu semata.

Bagaimana dengan Anda? Pernahkah Anda mengalami hal demikian, ketika Anda berusaha keras menyelesaikan masalah, ternyata Anda justru mengalami anti klimaks, kebuntuan bahkan kegagalan. Marilah kita tetap bertekun dan mengandalkan Tuhan, bukan bergantung pada kepandaian diri sendiri.

STUDI PRIBADI: Mengapa Elia tidak mengharapkan pertolongan Tuhan dalam menghadapi Izebel? Apa akibatnya jika seseorang mengandalkan kekuatannya sendiri?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah agar setiap orang Kristen mau taat dan senantiasa dekat dengan Tuhan dalam segala hal. Pelajaran hidup Elia ini kiranya membuat kita jera, sehingga menyerahkan segalanya ke dalam kuat kuasa tangan-Nya.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2012 GKA Gloria
 

PERSPEKTIF hari ini
Hubungi Kami