Senin, 28 Juni 2010
Andreas dan Kebenaran (1)

Bacaan hari ini: Yohanes 1:40-42
“Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus.” (Yohanes 1:40)

Siapakah Andreas? Tidak banyak hal yang dicatat mengenai dirinya. Yang pasti, dia adalah saudara Simon. Dia tidak pernah menulis Injil dan tidak pernah dicatat melakukan mujizat apa-apa. Andreas hanya muncul khusus dalam Injil Yohanes saja, dan tidak pernah dicatat namanya dalam Injil lainnya. Injil Yohanes mencatat, 3 kali kemunculan Andreas secara singkat saja, yaitu 1:40-42, 6:8-9, dan 12:20-22. Nama Andreas ini muncul untuk terakhir kalinya dalam Alkitab dalam peristiwa pentakosta (Kis 1:13); setelah itu, namanya tidak pernah disebutkan lagi dalam Alkitab. Meskipun nama Andreas ini hanya muncul secara singkat, ada beberapa hal yang bisa kita pelajari.

Andreas adalah seorang yang responsif terhadap kebenaran. Dalam ayat 34 dikatakan bahwa Andreas mendengar perkataan dari Yohanes Pembaptis, “Lihatlah Anak Domba Allah.” Perkataan ini mendorong diri Andreas untuk mengikuti Yesus dan tinggal bersama dengan-Nya. Perlu kita pahami bahwa istilah “Anak Domba Allah” adalah suatu istilah yang asing bagi orang Yahudi pada waktu itu. Istilah ini tidak pernah muncul dalam PL, dan hanya Yohanes Pembaptis yang memakai istilah ini untuk menyebutkan diri Tuhan Yesus. Dengan kata lain, Andreas baru pertama kali mendengar istilah ini dan ia tergerak untuk mengetahui siapa itu “Anak Domba Allah.” Andreas memiliki passion for truth, dan setelah ia tinggal semalaman dengan Yesus, ia pun pulang membawa pengertian yang baru, “Kami telah menemukan Mesias” (meski pemahamannya tentang Mesias pasti tidak utuh). Jika Andreas hari itu tidak responsif terhadap perkataan Yohanes Pembaptis, sangat mungkin ia tidak pernah mengenal siapakah Yesus dalam hidupnya.

Sebagai orang Kristen, kita juga harus memiliki sifat seperti Andreas ini. Banyak orang Kristen kurang ada dorongan untuk mengenal kebenaran dengan lebih dalam; mereka mudah putus asa ketika tidak mengerti Firman yang dibaca, dsb. Marilah kita belajar dari sikap Andreas yang responsif terhadap kebenaran agar kita bertumbuh dalam iman kita.

STUDI PRIBADI: Apa penyebab orang Kristen tidak responsif terhadap kebenaran firman Tuhan? Apa faedahnya jika kita bersikap responsif terhadap firman Tuhan?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat Tuhan supaya mereka memiliki sikap yang rindu dan keinginan yang besar untuk mengetahui kebenaran firman Tuhan, sekalipun mereka mungkin sulit untuk memahaminya.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2012 GKA Gloria
 

PERSPEKTIF hari ini
Hubungi Kami