Jumat, 18 Juni 2010
Disiplin, Bentuk Cinta yang Nyata

Bacaan hari ini: Amsal 13:2
“Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” (Amsal 13:24)

Didikan yang diberikan terhadap anak merupakan tema penting yang terus ditekankan oleh penulis kitab Amsal ini (Ams. 19:18, 22:15, 23:13, 29:15, 17). Secara khusus, ayat ini ingin menekankan bahwa kasih orangtua dinyatakan melalui sikap mendisiplin atau menghukum anak secara bertanggung jawab; terjadilah suatu hal yang nampaknya paradoks, yakni hajaran adalah bentuk dari cinta.

Frasa “benci kepada anaknya” ini mempunyai kesejajaran pengertian dengan sikap menolak atau tidak mempedulikan anak itu. “Menghajar dia pada waktunya” mempunyai dua arti, yaitu “berhati-hati atau cermat dalam mendisiplin” (careful in disciplining–NIV), dan secara literal diterapkan pada awal kehidupan anak sebelum kebiasaan buruk bertumbuh dalam dirinya, atau setelah adanya luka yang ditimbulkan kebiasaan buruk itu. Ada teks Mesir kuno yang menyebutkan bahwa, “Seorang anak mempunyai telinga di punggung mereka; mereka akan mendengar setelah mereka dipukul.” Pentingnya didikan yang mendisiplin anak ini nampak jelas juga di dalam Perjanjian Baru (Ef. 6:4, Ibr. 12:5-11). Terlalu banyak kemurahan hati atau terlalu keras dalam mendisiplin, dapat mendatangkan masalah yang sama peliknya. Keseimbangan bisa hadir ketika seorang anak mempunyai ruang untuk bertumbuh, sementara ia mempelajari batas-batas kehidupannya. Tentu, disiplin yang diberikan tidak selalu ber-bentuk hukuman yang keras. Dalam Amsal 4:3-4, 10-11 terlihat bahwa didikan yang lembut dan penuh kasih juga dihadirkan sebagai sarana yang efektif dalam pembentukan moral dan karakter anak.

Cinta itu mendisiplinkan. Maka dari itu, marilah kita yang telah dikaruniai anak, agar dapat menjadi orangtua yang peduli, orangtua yang berani untuk menegur, berani menghukum, dan mau mendisiplin anak-anaknya dengan tegas. Kiranya buah positif dari disiplin menyakitkan yang diberikan kepada anak kita pada saat ini dapat dirasakan dan disyukuri manfaatnya, baik bagi kita selaku orangtua yang mendidik, maupun bagi buah hati kita di kemudian hari nanti (lih. Ibr. 12:11).

STUDI PRIBADI: Bagaimana sikap kita sebagai orang tua dalam mendidik anak? Apakah telah mencerminkan sikap sebagai orang tua Kristen yang memuliakan nama Tuhan?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi setiap orang tua Kristen agar mereka mempunyai sikap yang bijak dalam mendidik setiap anaknya, sehingga di kemudian hari nanti, boleh dirasakan manfaatnya dan mengakibatkan, nama Tuhan dipermuliakan.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2012 GKA Gloria
 

PERSPEKTIF hari ini
Hubungi Kami