Bacaan hari ini: 1 Tesalonika 1:1-10 (lanjutan)
“Sebab kami selalu mengingat pekerjaan imanmu, usaha kasihmu
dan ketekunan pengharapanmu kepada Tuhan kita Yesus Kristus di hadapan Allah dan Bapa kita.” (1 Tesalonika 1:3-4)
Selain memiliki “pekerjaan iman,” jemaat Tesalonika juga memiliki “usaha kasih” (ay. 3b, 9a, 9c). Ketika Paulus berbicara tentang usaha/kerja keras yang didorong oleh kasih, yang ia maksud adalah lebih dari sekedar perbuatan baik. Kata “kopos” yang dipakai, menunjukkan suatu pekerjaan yang sangat sulit, yang membutuhkan banyak tenaga untuk menyatakan kasih. Dalam bahasa Yunani, ada beberapa kata yang dipakai untuk mengungkapkan kasih. Namun dalam bagian ini, kata kasih yang dipakai adalah “agape,” yakni kasih yang dikenal dalam pemahaman untuk menyatakan kasih Allah. Kasih yang tidak mencari keuntungan, kasih yang rela berkorban, kasih tanpa syarat. Kasih yang seperti inilah yang diperlihatkan oleh jemaat Tesalonika dalam menyambut kehadiran para rasul (ay. 9a) dan juga dalam melayani Allah (ay. 9c). Kasih yang sejati ini hanya tumbuh dari iman yang benar.
Ciri ketiga dari kehidupan rohani jemaat Tesalonika, adalah “adanya ketekunan dalam pengharapan” (ay. 3c, 10). Kedua surat Tesalonika ini menekankan hal yang sama, yakni “kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya.” Berita ini merupakan puncak dari apa yang ingin disampaikan oleh rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat Tesalonika. Dalam ayat 10 ini dituliskan, mereka percaya bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali untuk menyelamatkan mereka dari murka yang akan datang. Dalam ayat 3c, dikatakan bahwa mereka bertekun dalam pengharapan yang demikian. Kata “ketekunan” yang dipakai di sini adalah “hypomone,” bukanlah dalam arti negatif, ataupun pasif diam, tetapi merupakan suatu yang aktif, berani bertahan atau tabah.
Karena itu, meski jemaat Tesalonika hidup menderita, mereka sabar karena pengharapan mereka; bukan menderita dengan pasrah; melainkan menderita dengan pengharapan yang menyala-nyala akan kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Pengharapan inilah yang membuat jemaat Tesalonika tetap mampu melakukan pekerjaan iman serta usaha kasih mereka dengan setia, sekalipun hidup dalam penderitaan.
STUDI PRIBADI: Mengapa jemaat Tesalonika memiliki usaha kasih yang nyata dalam hidup mereka? Bagaimana dengan kehidupan iman dan kasih kita pada masa kini?
DOAKAN BERSAMA: Doakanlah agar ketiga ciri kehidupan Kristen yang bertumbuh yang dimiliki jemaat di Tesalonika, yakni pekerjaan iman, usaha kasih dan pengharapan, menjadi bagian dari setiap kita yang mengaku sebagai orang percaya.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index