Bacaan hari ini: Matius 5:20
“Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata: Aku mau, jadilah engkau tahir. Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya.” (Matius 8:3)
Matius, artinya “hadiah dari Allah.” Dia adalah salah satu di antara 12 orang murid Yesus (Mat. 10:3), yang juga disebut Lewi (Mrk. 2:14), yang artinya “bersatu.” Matius ini adalah seorang pemungut cukai yang terpanggil sebagai seorang rasul (Mrk. 2:14; Mat. 9:9).
Sebenarnya, Matius sendiri adalah orang Yahudi yang bekerja pada pemerintah Romawi untuk menarik pajak pada bangsanya. Dalam hal ini, tidak jarang, pemungut cukai, termasuk juga Zakheus, menggunakan tipu muslihat yang licik (Luk.19:8). Karena itu, pemungut cukai sangat dibenci orang sebangsanya, dan menyamakannya sebagai orang kafir, sebagai kaki tangan orang Romawi, bahkan, dianggap sebagai orang berdosa dan pelacur (Mat. 21:32). Tapi puji Tuhan, apa yang dipandang hina dan rendah oleh manusia, telah diperhatikan Allah, dipilih dan dipanggil-Nya. Setelah bertobat, Matius dipakai secara heran oleh Tuhan untuk menulis Kitab Injil kepada bangsanya.
Apa mujizat pertama yang dicatat dalam Injil Matius? Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta (Mat. 8:2-3). Mengapa diawali mujizat ini? Mengapa bukan mujizat yang lain? Bukankah banyak mujizat yang Yesus lakukan pada masa itu? Jawabnya ialah, bagi orang Yahudi, penyakit kusta melambangkan dosa, suatu penyakit yang menggambarkan hukuman dari Allah. Dalam Perjanjian Lama, dicatat beberapa kali Tuhan menjatuhkan hukuman pada seseorang yang berdosa dengan penyakit kusta (Bil. 12:9-11). Mereka dikucilkan, dan tidak seorangpun mau bersentuhan dengan mereka; sehingga mereka harus berteriak, “Najis!” ketika berpapasan dengan orang lain.
Namun dalam PB, adalah suatu hal yang langka apabila seorang kusta datang mendekat dan sujud menyembah Yesus. Orang-orang Yahudi pasti memelototkan matanya dan melihat apa yang Yesus akan lakukan baginya. Sungguh ajaib, Yesus mengulurkan tangan-Nya yang kudus, Ia menjamah dan menyembuhkannya. Di sini, Yesus menyatakan belas kasihan kepada orang kusta terkucil itu, dan bahwa Dialah Juruselamat orang berdosa.
STUDI PRIBADI: Bagaimana sikap Allah terhadap kita, manusia berdosa? Bagaimana pula sikap kita terhadap sesama yang berbuat dosa atau bersalah kepada kita?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat Tuhan agar mereka bisa mensyukuri anugerah Tuhan di dalam hidup mereka dan menyatakan kasih Tuhan kepada orang lain yang belum mengenal-Nya, melalui kehidupan mereka.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index