Minggu, 30 Mei 2010
Kriteria Kesalehan yang Sejati

Bacaan hari ini: Matius 5:20
“Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 5:20)

Kesalahan utama ajaran Yudaisme ialah merubah esensi pewahyuan Allah menjadi agama yang bercirikan berbagai peraturan, syariat yang harus ditaati secara harfiah, yang lebih fokus pada peraturan tertulis dan bukan makna rohaninya. Sejak zaman pembuangan, para ahli Taurat menekuni dan mendalami Kitab-kitab PL. Hasil penafsiran mereka kemudian dibukukan dan diwariskan ke generasi berikutnya. Oleh kelompok Farisi, penafsiran tersebut diuraikan lagi menjadi ribuan peraturan, dan dilakukan secara harfiah dengan semangat fanatisme dan legalis.

Kelompok Farisi dan pemimpin rohani zaman itu menjalani kehidupan agama yang sangat ketat dan cukup berhasil, sehingga menurut pandangan umum, mereka dianggap orang-orang saleh. Yang mereka tidak sadari adalah, bahwa mereka telah membangun kebenaran mereka sendiri (bnd. Rm. 10:2-3), merasa diri sudah benar, dan dengan demikian menjerat diri mereka, serta orang-orang yang menjadi pengikutnya. Dari sudut pandang religius, harus diakui bahwa mereka cukup “saleh,” telah mengikuti semua aktifitas keagamaan, berpuasa lebih daripada yang diharuskan, dan tentu, dalam kehidupan sesehari, mereka juga berusaha hidup dalam relasi yang benar dengan sesama. Di mata orang banyak, mereka cukup “righteous”.

Tetapi Tuhan menyatakan bahwa kehidupan orang Kristen sejati harus lebih baik dari standar itu. Righteousness yang diperlihatkan para pemimpin rohani zaman itu adalah rihgteousness yang semu, yang justru harus dihindari. Orang Kristen sejati, ialah orang yang hidup dalam righteousness sejati. Dia adalah orang yang lapar dan haus untuk hidup secara righteouss dalam setiap relasi yang terjadi, baik dengan Allah atau dengan sesama. Yang membedakan keduanya adalah, righteousness orang Kristen sejati muncul dari dalam jiwanya sebagai bagian dari karakter Kristen yang terbentuk. Tuhan ingin memperingatkan, bahwa jika kita tidak punya ini, sesungguhnya kita tidak lebih daripada sekadar melakukan aktifitas agama saja, sama dengan mereka. Inilah yang dimaksud Tuhan dengan bangunan tanpa fondasi yang suatu hari kelak akan roboh ketika diuji.

STUDI PRIBADI: Apa yang Tuhan kehendaki dari keagamaan yang kita jalani, sama seperti ahli Taurat atau seperti Kristus? Apa alasannya?!
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat agar mereka tidak menjalankan aktifitas keagamaan atau membangun kerohanian yang semu, tapi menjiwainya dan hidup sama seperti yang telah Kristus teladankan selama Ia hidup.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2012 GKA Gloria
 

PERSPEKTIF hari ini
Hubungi Kami