Ayat Bacaan: 1 Korintus 15:10-11
“Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua...” (1 Korintus 15:10-11)
Hidup adalah suatu anugerah Allah. Kalau hidup itu anugerah Allah, maka sudah sepatutnya kita memanfaatkannya untuk hal-hal yang berarti bagi Allah yang telah menganugerahkannya kepada kita, sebagai suatu ungkapan syukur bagi-Nya. Itulah kira-kira yang Paulus ingin katakan dalam bagian ayat di atas dan yang juga telah menjadi konsep Paulus tentang keberadaan hidupnya yang telah diperbaharui Allah.
Mengapa Paulus memiliki konsep hidup yang sedemikian? Jawabnya adalah, karena Kuasa Kebangkitan Kristus. Mengapa demikian? Karena, jika kita mencoba melihat ke belakang tentang siapa dan apakah yang telah Paulus lakukan sebelumnya, maka kita akan memahaminya.
Siapa dan apakah yang Paulus lakukan sebelum Kristus bangkit dan menjamah hidupnya? Paulus adalah seorang yang dapat membanggakan diri dengan keberadaannya secara lahiriah. Ia adalah seorang Ibrani tulen (2Kor. 11:22; Flp. 3:4, 5; Kis. 21:39; 22:3; 23:6). Secara pendidikan, Paulus adalah seorang sarjana besar, ahli dalam Taurat, yang dididik langsung oleh imam Gamaliel (Kis. 22:3). Berdasar ketentuan-ketentuan Yahudi, Paulus memiliki hak yang lebih besar lagi untuk dihormati. Dia adalah orang Farisi (Kis. 23:6; Flp. 3:5). Dari segala rohaniawan Yahudi, tidak ada yang lebih dihormati daripada orang Farisi. Merekalah kelompok yang paling istimewa dari bangsa Yahudi. Ia juga memiliki kewarganegaraan Romawi. Paulus bangga akan keberadaannya (Kis. 16:35-39; 22:25). Oleh karena ketaatan dan kesetiaannya kepada agamanya, ia dengan semangat yang berkobar-kobar disertai dengan surat kuasa dari Imam Besar (Kis. 9:1, 2) pergi untuk menangkapi dan membunuhi orang-orang percaya.
Namun, setelah mengalami perjumpaan dengan Kristus yang bangkit serta jamahan kuasa kebangkitan-Nya (Kis. 9:1-19a), hidupnya diubahkan menjadi pengikut Kristus (Gal. 2:19-20). Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi perubahan total dalam hidup Paulus. Dahulu, ia hidup untuk diri dan agamanya, kini ia hidup untuk Kristus, yang hidup dalamnya. Bagaimana dengan Anda?
STUDI PRIBADI: Bagaimana kondisi keagamaan Paulus sebelum ia bertobat? Bagaimana kondisi Paulus setelah bertobat?
DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi jemaat Tuhan yang baru bertobat supaya mereka bertumbuh dalam iman dan pengenalan yang benar tentang diri mereka sendiri dan juga tentang Allah yang hidup dan yang menjamah hidup mereka.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index