Minggu, 07 Februari 2010
Kotbah di Bukit

Ayat Bacaan: Ibrani 2:1-4
“Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus.” (Ibrani 2:1)

Dalam bagian introduksi tafsiran Kotbah di Bukit, John Stott menyatakan, bahwa alasan utama mengapa gereja gagal memberi jawaban atas kebutuhan dunia ialah karena gereja tidak mampu menyajikan kesaksian hidup yang membuat orang dunia merasa tertarik. Kegagalan gereja menjalankan panggilannya, berkaitan dengan kegagalannya dalam menghayati dan menerapkan ajaran Kotbah di Bukit. Ajaran Tuhan yang dirangkum penulis Injil Matius dalam paket Kotbah di Bukit, menjadi harta kekristenan yang paling bernilai, namun terabaikan.

Ketika kitab-kitab PB ditetapkan, Roh Kudus memakai dan memimpin Bapak-bapak Gereja untuk menyusun urutan ke-27 Kitab. PB tidak dimulai dengan kitab yang pertama ditulis, juga tidak diawali oleh Injil Yohanes yang dimulai dengan kalimat yang sama dengan Kitab Kejadian (Pada mulanya), yang sarat dengan pengajaran doktrinal, melainkan Injil Matius. Dengan penyusunan seperti ini, menyiratkan bahwa ajaran Tuhan dalam 3 pasal Kotbah di Bukit ini sangat penting, yang seolah merupakan landasan bagi seluruh proses pertumbuhan iman dan kerohanian orang percaya.

Pentingnya pengajaran Kotbah di Bukit juga dipertegas Tuhan Yesus sendiri di bagian penutup, “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya” (Mat. 7:24 ), kata “perkataan-Ku” adalah bentuk jamak (these words of Mine—NIV), menghunjuk pada seluruh pengajaran dalam 3 pasal tersebut. Mengabaikan ajaran ini, sama dengan membangun tanpa fondasi. Dan tanpa fondasi, sesungguhnya kita hanya akan “membangun” kehidupan iman dan ibadah palsu, yang suatu saat akan runtuh rata tanah.

Para ahli yang mengkhususkan dalam tafsiran ini umumnya sependapat, untuk memahami ajaran Alkitab dengan baik, kita perlu belajar doktrin yang benar. Tapi untuk membangun karakter Kristen yang serupa Kristus, Kotbah di Bukit ini adalah pilihan utama. Memahami dan menerapkannya, kita akan menjadi orang Kristen yang seharusnya, memiliki karakter Kristen sejati dan kualitas hidup Kristen yang penuh kuasa, yang membawa berkat bagi orang lain. Mengabaikannya, berarti kehilangan fondasi rohani sejati.

STUDI PRIBADI: Mengapa isi ajaran Tuhan Yesus dalam Kotbah di Bukit sangat mendasar bagi pertumbuhan iman dan karakter orang percaya? Sudahkah Anda membacanya?

DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi setiap jemaat Tuhan agar memiliki kerinduan untuk mempelajari ajaran Tuhan Yesus dalam Khotbah di Bukit, sehingga tiap kita mengerti kehidupan Kristiani yang sesungguhnya.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2012 GKA Gloria
 

PERSPEKTIF hari ini
Hubungi Kami