Ayat Bacaan: 2 Tawarikh 14:1-6, 16:7-13
“Namun dalam kesakitannya itu ia tidak mencari pertolongan TUHAN, tetapi pertolongan tabib-tabib.
Kemudian Asa mendapat perhentian bersama-sama nenek moyangnya.” (2 Tawarikh 16:12-13)
Bagi sebagian orang, memulai sesuatu adalah hal tidak mudah. Tapi banyak orang yang lupa bahwa sebenarnya menyelesaikan sesuatu dengan baik adalah jauh lebih sulit daripada memulai sesuatu. Kita mungkin mengetahui ada orang-orang sekitar kita yang mungkin demikian. Awalnya, mereka memulai sesuatu dengan sangat baik, karena mereka berusaha memberikan yang terbaik. Sayangnya, pada akhirnya, mereka justru jatuh dan mengacaukan hal-hal baik yang mereka sudah mulai pada awalnya.
Hal yang sama terjadi pula dalam kehidupan beberapa tokoh Alkitab. Dari bagian kitab yang kita baca, ada tertulis bahwa pada masa awal pemerintahannya “...Asa melakukan apa yang baik dan yang benar di mata TUHAN, Allahnya...” (2Taw. 14:2). Raja Asa menyingkirkan semua jenis patung dan penyembahan berhala. Setelah itu, dia membawa rakyatnya untuk kembali menyembah Tuhan. Dalam kesungguhannya di hadapan Tuhan pula, dia memecat neneknya sendiri, karena memuja patung dewi kesuburan Asyera dengan cara melakukan perzinahan dalam ritual ibadah. Karena hati Asa yang tulus ikhlas (15:17), maka tidak ada perang dalam pemerintahannya selama tiga puluh lima tahun (2Taw. 15:19).
Sayangnya, ketika usianya sudah lanjut, Alkitab mencatat perubahan hidup Raja Asa. Karena Asa, Raja Yehuda, takut akan kerajaan Israel, dia membuat perjanjian dengan Benhadad, raja Aram. Asa lebih bersandar pada Raja Aram daripada kepada Tuhan (2Taw. 16:7). Ketika Tuhan Allah mengutus seorang nabi-Nya, Hanani, untuk berbicara kepadanya, Asa tidak memperhatikannya, tetapi justru menjadi marah dan memenjarakan Hanani. Bahkan di akhir hidupnya, Asa menjadi tua, sakit, tidak bersandar pada Tuhan (2Taw. 16:12b).
Sebagai manusia berdosa, kita tidaklah lebih baik dari Raja Asa, atau orang lain di sekitar kita yang gagal pada akhir hidupnya. Hanya dengan bersandar pada pertolongan Tuhan saja, kita bisa mulai tahun ini dengan baik dan mengakhirinya dengan baik pula. Masih belum terlambat!
STUDI PRIBADI: Apa yang seringkali membuat orang gagal pada penyelesaian akhirnya? Apa yang akan kita kerjakan ketika kita telah menikmati kenyamanan dari Tuhan?
DOAKAN BERSAMA: Berdoa dan memohon kekuatan dari Tuhan agar kita sebagai umat-Nya tidak menyombongkan diri karena berkat dan kebaikan yang Tuhan telah berikan kepada kita, tetapi semakin membuat kita berakar kepada-Nya.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index