Kamis, 28 Januari 2010
Dua Macam Dasar

Ayat Bacaan: Matius 7:24-27
“Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.” (Matius 7:24)

Perumpamaan dua macam dasar ini merupakan bagian terakhir dari khotbah Yesus di bukit yang diajarkan kepada banyak orang dan juga murid-murid-Nya (Mat. 5:1). Melalui khotbah-Nya ini, Yesus mengajarkan ciri-ciri warga Kerajaan Allah dan Kebenaran-Nya. Yesus juga mengajarkan tentang sedekah, berdoa, berpuasa serta hal-hal lain yang berhubungan dengan kehidupan, iman dan penghakiman. Dalam perikop ini, Yesus mau mengajarkan pada para pendengar-Nya, agar bukan hanya menjadi pendengar firman saja, tetapi juga melakukannya.

Perkataan ini juga merupakan teguran Yesus kepada para pendengar-Nya, termasuk para murid; karena perumpamaan ini ditujukan bagi mereka yang telah mendengarkan ajaran Yesus dan menganggap dirinya sebagai murid Yesus, serta menerima kebenaran Allah yang mendorongnya untuk menaati atau melakukan firman-Nya. Perumpamaan ini ingin menyatakan bahwa orang bijaksana dan orang bodoh memiliki tujuan yang sama yaitu mendirikan rumah, tetapi dasarnya berbeda. Orang bijaksana mendirikan rumah di atas batu, sedangkan orang bodoh mendirikan rumah di atas pasir. Dan keduanya sama-sama mengalami turunnya hujan dan banjir, lalu angin melanda rumah itu (ay. 25, 27), tetapi kondisi terakhirnya berbeda. Rumah orang bijaksana tidak rubuh tetapi rumah orang bodoh, rubuh dan hebatlah kerusakannya.

Perumpamaan ini sebenarnya tidak mengajarkan kita hanya untuk menjadi pendengar firman dan menjadikan firman itu dasar hidup kita saja; tetapi juga harus melakukannya. Ini ditegaskan dua kali oleh Yesus sendiri (ay. 24, 26). Karena itu, jika kita hanya menjadi pendengar saja dan tidak melakukannya, maka kita tidak dapat bertumbuh dan hidup seperti yang diinginkan-Nya. Kita harus ingat bahwa iman yang bertumbuh sehat akan membuat para pendengar firman (orang percaya) mampu bertahan dalam menghadapi badai kehidupan (penderitaan) yang menimpanya. Melalui perumpamaan ini kita juga diingatkan, sudahkah kita menjadi pendengar sekaligus pelaku firman-Nya?

STUDI PRIBADI: Mengapa mendengar saja tidak cukup dan harus menjadi pelaku firman? Apakah bedanya antara pendengar dan pelaku firman dalam hidup mereka?

DOAKAN BERSAMA: Berdoalah bagi setiap orang Kristen agar tiap kita selain menjadi pendengar firman Tuhan, juga menjadi pelaku firman yang taat dan setia, sehingga iman mereka bertumbuh dan berbuah dengan baik.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2012 GKA Gloria
 

PERSPEKTIF hari ini
Hubungi Kami