Ayat Bacaan: Matius 5:22 (lanjutan)
“Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama.” (Matius 5:2 2a)
Wibawa dan otoritas Yesus dalam penjabaran makna hukum Taurat mulai dirasakan para pendengar (Mat. 7:28-29), sebab Dia berbicara bukan untuk kepentingan diri-Nya melainkan kepentingan Bapa (Yoh. 4:34). Dia berbicara bukan dengan teori filsafat, melainkan sebagai Firman Hidup (Yoh. 6:68). Karena itu, kita yang percaya dengan iman bahwa Firman adalah hidup yang kekal, berani melaksanakan perintah-Nya, sehingga iman kita bukan iman yang mati (Yak. 2:17).
Dalam penjabaran perintah jangan membunuh, Yesus mau menelanjangi motivasi hati dan cara berpikir manusia terhadap sesamanya. Karena itu, perintah “jangan membunuh” ini tidak boleh hanya ditafsirkan dan diterapkan pada tindakan lahiriah yang menghilangkan nyawa seorang manusia. Perintah ini harus dikaitkan dengan sumber permulaan terjadinya kemungkinan pembunuhan.
Pembunuhan memiliki tiga latar belakang mendasar. Pertama, melalui kemarahan yang berakar pada dosa, sebagaimana yang terjadi pada Kain atas Habel (Kej. 4:5-8). Kemarahan dari egoisme merupakan kerusakan mental dan kerohanian seseorang, sehingga tidak mungkin berpikir benar. Kedua, melalui kesombongan rohani yang bersumber pada keangkuhan diri, seperti yang dilakukan Ahab atas kebun anggur Nabot (1Raj. 21). Di sini terjadi kerusakan karakter seseorang karena melakukan pembenaran dirinya, dan berakibat pada mempersalahkan orang lain, sehingga dia melakukan penghalalan segala cara. Ketiga, melalui penurunan derajat manusia yang berkonsep pembedaan generasi ataupun rasial, seperti yang dilakukan dalam perbudakan manusia. Dari sikap ini, manusia telah melakukan pembunuhan karakter dan mental atas orang lain. Sikap ini merupakan penghinaan atas ciptaan Tuhan, sebab manusia menyandang gambar Allah di dalamnya, apapun keadaannya.
Jika pembunuhan secara fisik bisa dikenakan hukuman yang setimpal, maka pembunuhan secara mental dan karakter harus dikenakan hukuman seberat-beratnya; yang diidentikkan dengan penghukuman kekal neraka.
STUDI PRIBADI: Mengapa kita harus mencari akar permasalahan yang menimbulkan pembunuhan? Mengapa motif, cara, dan tujuan pembunuhan menjadi penilaian Tuhan?
DOAKAN BERSAMA: Sebagai manusia Kristen, kita harus selalu dapat menjaga situasi, motivasi, dan pikiran hati kita, agar senantiasa mencari perkenanan Tuhan, bukannya perkenanan diri kita dan manusia lainnya.
Renungan sebelumnya
|
Renungan selanjutnya
|
Index