Kamis, 29 Oktober 2009
Saling Mengasihi

Ayat Bacaan: Matius 25:31-46
“Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40)

Bacaan hari ini mungkin telah akrab di telinga kita; namun, beberapa orang sering menyalahartikan makna kisah ini. Misalnya, pendapat bahwa penghakiman seseorang akan bergantung pada kepedulian orang tersebut terhadap orang-orang yang miskin sehingga secara implisit, keselamatan seseorang bukan didasarkan karena imannya kepada Yesus.

Untuk memahami kisah ini, kita harus terlebih dulu memahami siapa “saudara-Ku” yang dimaksud Tuhan di sini (ay. 40). Mayoritas orang sering mengartikannya sebagai “semua orang yang miskin dan hina.” Bila tafsiran ini benar, maka pandangan di atas bisa dibenarkan. Namun, apabila kita meneliti Injil Matius ini secara utuh, maka kita akan mendapatkan bahwa kata “saudara” dalam kisah ini paling mungkin menunjuk pada murid-murid Yesus atau orang percaya (bnd. 12:48-49; 28:10; 23:8). Perumpamaan ini sebenarnya ingin mengajarkan “sikap dan hubungan penuh kasih di antara komunitas umat-Nya.” Bahkan, ini adalah sebuah tema yang selalu muncul sepanjang Perjanjian Baru, yang menjelaskan: perlakuan kita terhadap saudara seiman juga berarti perlakuan kita terhadap Allah.

Ketika Paulus menyiksa orang-orang Kristen, Tuhan menampakkan diri kepadanya, dan mengatakan bahwa Paulus sedang menganiaya-Nya (Kis. 9:5). Mengapa demikian? Karena menyiksa murid-murid Tuhan sama artinya dengan menyiksa Tuhan. Demikian, apabila kita mengasihi saudara seiman, itu berarti bahwa kita juga mengasihi Tuhan (ay. 40). Jadi, kisah ini mengajarkan kita bahwa sebagai milik Tuhan, kita harus saling mengasihi, dan tidak tinggal dalam kebencian ataupun permusuhan. Dalam teks ini, alasan penerimaan Sang Raja lebih bersifat evidensial (membuktikan) daripada kausatif (menyebabkan). Artinya, adanya perlakuan yang baik, itu bukan supaya seseorang diterima oleh Sang Raja, melainkan sebagai bukti bahwa orang tersebut adalah “domba.” Artinya, jika kita sungguh-sungguh adalah “domba” maka kita seharusnya mau hidup saling mengasihi dengan saudara kita dalam Tuhan. Bagaimana dengan kita?

STUDI PRIBADI: Siapakah yang dimaksud dengan “saudara-Ku” itu? Apakah ini berarti bahwa Alkitab tidak menaruh perhatian pada orang-orang yang miskin? Bagaimana Anda mengaplikasikan kebenaran ini?

DOAKAN BERSAMA: Berdoa bagi jemaat, aktivis maupun pelayan Tuhan agar mereka tidak hidup dalam permusuhan, tetapi dalam kesehatian dan kasih di antaranya, sebagai bukti bahwa mereka adalah umat Tuhan.


Renungan sebelumnya    |    Renungan selanjutnya    |    Index


Copyright © 2005-2012 GKA Gloria
 

PERSPEKTIF hari ini
Hubungi Kami