Selain kehilangan kemuliaannya sebagai mandataris Tuhan di bumi; bahkan tidak lagi mampu mempresentasikan gambar dan rupa Tuhan sebagai akibat dosa mereka; manusia juga kehilangan tujuan dan aktualisasi diri yang benar sebagai ciptaan Tuhan yang mulia. Mereka mengejar kepuasan jasmani, yang menjerat mereka pada perbuatan dosa (Kej. 6:5; Ef. 2:1-3); yang pada akhirnya menghasilkan “kerusakan;” baik terhadap diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun menyangkali Pribadi Tuhan yang berdaulat.
Dosa yang telah memutuskan hubungan antara manusia dengan Allah telah mendorong manusia berusaha menemukan jati dirinya melalui interaksi dengan alam semesta, ilmu pengetahuan maupun psikologi modern. Dari interaksinya dengan alam semesta, memunculkan persepsi-persepsi mistis tentang manusia, bahwa mereka adalah makhluk ilahi yang terkurung dalam tubuh jasmani; mereka adalah satu zat dengan alam semesta, hanya saja beda bentuknya, dsbnya. Itulah sebabnya, manusia berperilaku, berpikir dan bertujuan secara mistis, seperti: penyatuan dengan alam, pemanfaatan energi positif dari bumi demi kesejahteraan manusia, yang tujuan akhirnya adalah manusia menjadi pribadi ilahi.
Sedangkan, dari interaksi manusia dengan psikologi atau ilmu pengetahuan modern menghasilkan pengakuan bahwa manusia adalah hasil sebuah evolusi, baik dalam tingkatan material maupun logikal. Persoalan manusia hari ini tidak lagi ditinjau dalam hubungannya dengan kejatuhan dosa atau spiritualitas yang benar, tetapi sebatas eksploitasi atau aktualisasi diri, yang tujuan akhirnya adalah sama dengan mistisisme; yang diekspresikan secara berbeda. Yang satu membawa manusia menjadi Tuhan secara mistis; sedangkan yang lain menjadikan manusia seperti Tuhan melalui logika ilmu pengetahuannya, menolak eksistensi dan kedaulatan-Nya.
Karena itu tidak mengherankan, apabila pada masa kini banyak sekali bermunculan ajaran yang tidak sehat; sebab ajaran tersebut bersumberkan pada sumber yang salah. Sebagai orang Kristen, yang telah menjadi ciptaan baru di dalam Dia, kita perlu mengetahui bahwa kita dipanggil-Nya bukan untuk mengaktualisasikan diri kita menurut filosofi dunia, sekalipun di dalamnya mengenakan atribut-atribut kekristenan; melainkan dipanggil untuk mengaktualisasikan kehidupan Kristus di dalam hidup kita, dengan cara meneladani-Nya (1Kor. 11:1, Ef. 2:10, Flp. 2:5-8). Dengan meneladani Kristus, kita dapat menemukan kembali jati diri kita yang benar sebagai gambar dan rupa Allah, sehinga kita dapat berpikir, berperilaku, bertujuan, sama seperti Kristus.