Kelahiran Yesus Kristus Melalui Anak Dara

Oleh: Ev. Otniol H. Seba

Ayat Bacaan: Lukas 1:26-38; Matius 1:18-25
      Kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria telah membingungkan banyak orang, termasuk orang-orang Kristen pada umumnya. Ketika mereka ditanya “bagaimana mereka bisa yakin, bahwa Yesus Kristus lahir dari anak dara Maria? Apakah mereka memiliki bukti-bukti yang kuat untuk menunjukkan bahwa peristiwa itu bukanlah sebuah dongeng yang menjadi mitos yang dipercaya di dalam kekristenan?” Umumnya mereka hanya bisa menjawab, “Oh, itu adalah kata hamba Tuhan A atau B” atau “Ya itu memang sudah tertulis di dalam Alkitab demikian, jadi percaya saja!” Pernyataan semacam ini bukanlah keluar dari suatu keyakinan iman atas dasar pemahaman terhadap kebenaran yang Alkitabiah, namun ini hanya merupakan pernyataan dari iman yang kosong dan buta!
      Pertanyaan yang mengemuka untuk dipikirkan: Bagaimanakah supaya orang percaya memiliki keyakinan bahwa Kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria, merupakan suatu kebenaran yang sejati? Adakah bukti-bukti yang mendukung fakta kebenaran ini? Hal ini tentu dapat dijawab, jika orang percaya mempertimbangkan beberapa hal berikut ini:

PERTIMBANGAN HISTORIS
      Untuk meneliti tentang peristiwa kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria, maka perlu untuk melihat beberapa catatan berikut ini:
1. Dokter Lukas dan Rasul Matius
      Di dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru, catatan dari dokter Lukas dan rasul Matius tentang peristiwa kelahiran Yesus Kristus dari anak dara Maria cukup penting dan patut untuk dipertimbangkan kebenarannya. Lukas dan Matius sama-sama menceritakan kedatangan Malaikat Tuhan, baik kepada Yusuf, maupun kepada Maria, tentang kelahiran Yesus kristus dari Roh Kudus (bnd. Mat. 1:18-25 dan Luk. 1:26-38). Lukas menuliskan berita tentang kelahiran Yesus Kristus, melalui pemberitaan malaikat Gabriel kepada Maria (Luk. 1:26-38). Lukas mengutip perkataan malaikat Gabriel itu kepada Maria demikian: “Roh Kudus akan turun ke atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kau lahirkan itu akan di sebut kudus, Anak Allah (Luk. 1:35).”
      Tidak ada keragu-raguan tentang bagian ini, khususnya ayat 35. Naskah ini dianggap sah tulisan dokter Lukas. Walaupun dalam kritik teks yang dikemukakan oleh sejumlah pakar biblika menyebutkan ada sejumlah naskah yang menuliskan bagian ini dengan tambahan kata “ek sou” mis. Naskah Ephraemi Rescriptus, naskah Koridethi, Manuskrip 1, 118, 131, 209, yang tergabung dalam “Famili 1”, namun para ahli biblika yakin bahwa bagian ini asli tulisan dari dokter Lukas. Willker juga memberi kesimpulan bahwa teks ini asli. (1)
      Hal yang sama juga berlaku bagi Matius. Tidak ada keraguan untuk fakta sejarah yang dituliskan oleh Matius,(2) apakah itu benar atau tidak? termasuk kisah kelahiran Tuhan Yesus Kristus yang dicatat di dalam Matius 1:18-25. J.W Scott memberikan komentar berkaitan dengan historisitas injil Matius demikian: Kami menyimpulkan bahwa Lukas menuliskan Injilnya dengan karakter historis yang kuat.(3) Matius menuliskan bahwa, malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Yusuf dalam mimpinya dan memberitahukan kepadanya: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria, sebagai istrimu, sebab anak yang dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21-22). Kisah ini sungguh benar dan bukan rekayasa yang bertujuan untuk membuktikan sebuah validitas kebenaran di dalam kekristenan.
      Catatan dari dokter Lukas dan rasul Matius ini sangat penting untuk membuktikan bahwa peristiwa kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria adalah peristiwa yang benar adanya. Ben Witherington III menuliskan: Hal itu benar bahwa kisah-kisah seputar kelahiran Yesus Kristus melaporkan beberapa peristiwa yang melibatkan seorang atau dua orang. Di dalam kasus ini maksudnya, jika tradisi-tradisi ini memiliki bagian penting secara historis, maka mereka akhirnya kembali kepada Maria dan Yusuf (Laurentin). Asumsi kepada keluarga ini, telah dipegang secara luas di dalam gereja sampai abad 20, baik bagi mereka yang telah membuktikannya maupun bagi mereka yang belum dapat membuktikan hal itu melalui studi kritik historis.(4)

2. Tulisan Perjanjian Baru lainnya
      Ada beberapa bukti lain dari tulisan para rasul, yang berkaitan dengan kelahiran Kristus dari anak dara Maria, khususnya tulisan Rasul Paulus (Rm. 1:3; Gal. 4:4 dan Flp. 2:7). Penggunaan kata “ginomai”(5) oleh Rasul Paulus dalam ketiga ayat di atas membuktikan bahwa konsep kelahiran Kristus melalui anak dara Maria, telah dipahami oleh orang-orang Kristen pada zaman itu. Tentu hal ini tidak lepas dari pengajaran Paulus mengenai hal itu. Walaupun topik ini bukan sentral di dalam ajaran rasul Paulus, namun setidaknya bagian ini pernah diberitakan kepada para pendengarnya.
      Jika dugaan ini diterima, maka bukti kebenaran kelahiran Kristus dari anak dara Maria semakin valid. Mengapa? Karena ternyata orang-orang Kristen mula-mula mengenal dan mengetahui dengan jelas mengenai ajaran ini, khususnya untuk komunitas Kristen di bawah pengajaran rasul Paulus.

3. Bukti Lain Tentang Kelahiran Anak Dara
a. Bukti dari Bapa-Bapa Gereja
      Ada bukti-bukti lain yang dapat ditemukan, di luar tulisan Perjanjian Baru, yaitu tulisan dari bapa-bapa gereja. Ignatius dari Antiokhia menekankan “Yesus Kristus berasal dari Allah yang hadir di dalam dunia, melalui anak dara Maria.”(6) Tertullian berpendapat bahwa keperawanan Maria telah dinubuatkan di dalam Keluaran 13:2; Ia juga beranggapan bahwa Maria melakukan hubungan suami istri yang normal, setelah Yesus Kristus lahir. Origen juga mengakui pendapat “keperawanan Maria pada waktu melahirkan Yesus Kristus.(7) Seseorang menyimpulkan demikian: “Setelah tahun 100 AD, kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara telah diterima oleh Ignatius, Aristides, Justinus, Irenaeus, dan lainnya.”(8)
      Pengakuan dan penekanan kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara, Maria dari bapa-bapa gereja menunjukkan bahwa pada abad-abad permulaan kekristenan berkembang (sekitar abad II-IV), pengajaran tentang kelahiran Yesus Kristus dari anak dara Maria telah dikenal luas pada waktu itu. Ini menjadi bukti yang kuat yang dapat dipercaya.
b. Bukti dari Kitab Suci Lain
      Ada bukti lain tentang kelahiran Yesus Kristus menurut Qur'an yang dipercaya kaum muslim merupakan wahyu terakhir yang diinspirasikan kepada Muhammad. Qur'an lebih lanjut menjelaskan: Lihat! Malaikat itu berkata: Wahai Miryam, Allah telah memberikan sukacita yang besar tentang Firman dari Dia: namanya adalah Yesus Kristus, anak dari Miryam, yang memiliki kehormatan di dalam dunia sekarang, dan sampai kedatangan Tuhan. Dia berbicara kepada umatnya ketika masih kanak-kanak dan sampai dewasa. Dia akan menjadi orang benar di antara teman-temannya. Perempuan itu berkata: Oh Tuhanku! Bagaimana aku memiliki anak, ketika tidak ada seorang laki-laki menyentuh aku? Malaikat itu berkata: Walaupun begitu: Allah men-ciptakan apa yang Dia kehendaki. Ketika Dia memutuskan merencanakan sesuatu, Dia mengatakan Jadilah, dan hal itu terjadi!" Surah 3.45-47
      Bagian yang lain juga melaporkan kunjungan Malaikat Tuhan kepada Miryam dan respon yang dia berikan, ketika Malaikat Tuhan mengumumkan kepadanya kehamilan tentang Yesus: Maka kami mengirimkan Malaikat kami kepadanya dan Malaikat itu menampakkan diri dihadapannya sebagai seorang manusia yang penuh hormat. Perempuan itu berkata: Aku mencari perlindungan-Mu (Allah) yang maha mulia: (tidak usah mendekat), jika kamu menghormati Allah. Malaikat itu berkata: Wahai, akulah utusan dari Allah (untuk mengumumkan) kepada kamu, untuk memberikan seorang anak yang kudus. Perempuan itu berkata: Bagaimana aku akan memiliki seorang anak, sementara tidak ada seorang laki-laki menyentuh aku, dan aku adalah seorang wanita yang suci? Malaikat itu berkata: Jadilah demikian: Tuhanmu berkata, itu mudah bagi-Ku dan (kami menginginkan) untuk menentukan dia sebagai suatu tanda atas manusia dan belas kasihan dari kami; hal itu telah ditetapkan". Surah 19.17-21.(9)
      Ketika Miryam memperlihatkan bayi itu kepada umatnya, mereka berkata bahwa ini sungguh benar apa yang telah terjadi. Seorang bayi (Yesus) menjawab kepada umatnya: Dia berkata: Aku sungguh-sungguh seorang hamba Allah: Allah telah memberikan kepadaku wahyu dan menjadikan aku seorang nabi; Dan Allah telah membuat aku diberkati, kemanapun aku pergi dan telah memerintahkan aku berdoa dan beramal selama aku hidup; (Allah) telah menciptakan aku baik melalui ibuku dan tidak memaksakan dan hisup sengsara. “Jadi damai atasku pada hari aku lahir dan aku mati dan pada hari itu aku akan bangkit untuk hidup (lagi)"! Chapter 19, Verses 30-33.(10)
      Jikalau hal ini diterima sebagai hal yang benar, maka pada abad-abad pertengahan, kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara, Maria telah dikenal secara luas, bukan saja di dalam kekristenan tetapi juga di kalangan non-Kristen. Ini membuat kisah kelahiran Kristus melalui anak dara Maria tidak dapat diragukan lagi kebenarannya.

PERNYATAAN KITAB SUCI PERJANJIAN LAMA
      Pemberitaan mengenai kelahiran Kristus melalui anak dara, Maria merupakan bagian dari janji Tuhan di dalam PL. Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, Allah menyatakan rencana-Nya untuk menebus manusia dalam dosa. Kejadian 3:15 oleh para sarjana Alkitab dianggap sebagai pemberitaan Injil mula-mula (proto-evangelium) yang juga menyangkut kelahiran Kristus melalui anak dara, Maria. Charles L. Feinberg menuliskan: “Study doktrin Alkitabiah tentang kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara, harus dimulai dari Kejadian 3:15 di mana kami menyebut dengan tepat protoevangelium, yaitu: berita pertama tentang kabar baik.”(11)
      Selanjutnya, pemberitaan tentang hal ini, juga terdapat di dalam Yesaya 7:14. Teks yang menurut banyak sarjana Alkitab menjadi latar belakang bagi kisah kelahiran Yesus Kristus yang dicatat di dalam Injil Matius 1:18-25, khususnya ayat 23. Walaupun ada beberapa orang memikirkan bahwa konteks Yesaya 7:14 tidak berbicara tentang Maria, secara khusus, namun sejumlah sarjana biblika merujuk pada kata “ha almah”(12) Kata “almah” diterjemahkan sebagai virgin (anak dara), suatu ketentuan yang tidak menunjuk kepada perempuan yang sudah menikah, tetapi kepada perempuan yang belum menikah.(13) Feinberg menuliskan: Maka kesimpulan yang tak terelakkan bahwa “.... tidak ada dasar, gramatika, histori atau logika untuk meragukan inti dari peristiwa ini, bahwa gereja dalam segala abad memiliki kebenaran sesuai dengan bagian ini, sebagai suatu tanda dan prediksi yang jelas tentang mujizat dan kelahiran dari Yesus Kristus.”(14)

PERTIMBANGAN FISIOLOGIS-TEOLOGIS
      Pertanyaan ini terus menerus mengemuka di tengah sikap skeptis yang melanda manusia zaman pasca-modern ini: Mungkinkah Allah yang tidak terbatas menjadi manusia yang terbatas? Bisakah seorang perempuan biasa mengandung manusia tanpa dosa? Bukankah ada begitu banyak keberatan yang diajukan oleh orang-orang yang tidak percaya akan berita ini?
      Perlu untuk diperhatikan bahwa ada kebingungan yang terjadi dalam pemikiran orang-orang yang menentang iman Kristen yang mencampuradukkan antara doktrin kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara, Maria dan doktrin Inkarnasi. Doktrin Inkarnasi menjelaskan tentang Anak Allah yang kekal, Pribadi kedua dari Allah Tritunggal yang menjadi manusia. Allah di dalam kekekalan yang mem-batasi diri menjadi manusia dan tinggal di dalam dunia yang terbatas. Sedangkan doktrin tentang kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria menjelaskan bahwa kehadiran Yesus Kristus di dalam dunia tidak disebabkan oleh manusia, melainkan dari karya Roh Kudus. Ini tidak berarti bahwa Allah menikah dengan Maria, kemudian lahirlah Yesus Kristus. Doktrin kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria menunjukkan konsep supernatural atas Yesus Kristus yang merupakan manusia istimewa yang berasal dari Allah.(15)
      Kekristenan melandasi peristiwa “kelahiran Kristus melalui anak dara Maria” sebagaimana tercatat di dalam Alkitab yang dipercaya sebagai wahyu Allah yang diberikan kepada para penulis Perjanjian Baru,(16) khususnya rasul Matius dan dokter Lukas. Ini fakta historis yang tidak dapat dibantah! Ada banyak kesaksian baik, itu dari mereka yang ada di dalam tradisi kekristenan dan di luar tradisi itu, yang mengakui akan keabsahan peristiwa itu, bahwa Yesus Kristus lahir dari seorang perawan, Maria, sebelum ia menikah dengan Yusuf.
      Peristiwa kelahiran Kristus (= inkarnasi) ke dalam dunia harus di lihat di dalam perspektif rencana keselamatan Allah, di mana Dia merencanakan keselamatan itu sejak manusia jatuh ke dalam dosa. Tidak ada satu manusiapun yang mampu menjalankan dan memenuhi rencana keselamatan-Nya, selain daripada Dia sendiri yang harus turun menjadi manusia. Di dalam bukunya “Cur Deus Homo?” secara literal berarti, mengapa Allah menjadi manusia? Anselmus dari Canterbury, mengemukakan pertanyaan tentang Inkarnasi. Anselmus menjawab, hanya dengan menjadi Allah dan Manusia, maka Dia dapat menerima keselamatan manusia.(17) Inkarnasi ini hanya bisa dilakukan oleh Yesus Kristus yang adalah Allah dan manusia.
      Kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria, menunjukkan bahwa Dia sendiri bebas dari dosa. Yesus Kristus memiliki natur manusia, namun di dalam natur kemanusiaan-Nya Dia tidak berdosa. Status-Nya di hadapan Allah memang berdosa, namun naturnya tidak berdosa (bdk. 2Kor. 5:21; Ibr. 4:51). Jika Yesus Kristus memiliki natur dosa, maka penebusan-Nya menjadi tidak sempurna. Wayne Grudem memberi komentar berkaitan dengan hal ini: “Hal ini bukan berarti Allah merencanakan bahwa Kristus melakukan dosa atau pribadi Yesus Kristus sendiri sungguh-sungguh memiliki natur dosa, tetapi lebih dari itu, kesalahan karena dosa kita dilimpahkan oleh Allah kepada Kristus.”(18) Memang banyak orang menyangkal akan bagian ini, namun tidak ada alasan yang lebih kuat daripada pendapat ini. Alternatif yang mungkin bagi mereka adalah mengikuti dan menyetujui argumentasi bahwa Yesus Kristus tidak memiliki natur dosa.

PERTIMBANGAN MUJIZAT
      Kelahiran Yesus Kristus, melalui anak dara, Maria dianggap oleh banyak orang sebagai rekayasa manusia dan bukan sebuah mujizat yang terjadi. Mereka mengkaitkan bahwa peristiwa ini mirip dengan kisah-kisah mistis penyembahan berhala ala Yunani kuno dan Babilonia. Mereka mengemukakan bahwa kemungkinan besar para penulis Injil, telah memimjam kisah-kisah mereka dan kemudian menuliskan di dalam kitab-kitab mereka, termasuk kisah kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara, Maria. Pendapat ini menyimpulkan: Not only the idea of a virgin mother, but all the other miraculous events, such as the stable cradle, the guiding star, the massacre of the children, the flight to Egypt, and the resurrection and bodily ascension toward the clouds, have not only been borrowed, but are even scarcely altered in the New Testament story of Jesus.(19)
      Perlu ditekankan bahwa Matius dan Lukas tidak mengutip kisah mitos dari tradisi-tradisi penyembahan berhala. Mengapa? Karena: Matius dan Lukas menuliskan Injilnya, secara historis. Hal ini nampak di dalam penyebutan tempat, nama orang, serta peristiwa-peristiwa semuanya dapat dibuktikan melalui metode penelitian historis dan arkeologis. Ini yang membedakan antara genre di dalam Injil dan mitos-mitos Yunani dan Babilonia.(20)
      Bagi mereka yang menolak mujizat, mereka menggunakan pikiran rasional sebagai standar untuk menguji konsep seperti ini yang terkategori mujizat. Namun hal yang pasti bagi mereka yang percaya Tuhan adalah bahwa: (1) Allah berkuasa melebihi segala sesuatu. Allah berdaulat atas segala kemungkinan yang terjadi. Dan tidak ada satupun hal yang hilang dari pengetahuan Allah. (2) Allah berada di atas hukum alam. Hukum alam terjadi oleh karena ada penyebab. Satu hukum berkaitan dengan hukum yang lain. Namun berbeda dengan mujizat. Mujizat terjadi tanpa disebabkan oleh sesuatu. Mujizat terjadi, oleh karena Allah yang menyebabkan.(21) (3) Tidak ada suatu peristiwa apapun yang terjadi secara kebetulan. Segala sesuatu berjalan sesuai dengan tatanan ilahi, termasuk mujizat kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara, Mara. Ronald Nash yang menyimpulkan pendapat ilmuwan Richard Bube, mengatakan: Mujizat merupakan hasil dari cara manusia menginterpretasikan hal-hal yang Allah lakukan secara alami. Bube mengakui mujizat akan terlihat seperti melanggar hukum alam sebagaimana yang kita pahami sekarang atau terlihat seperti suatu kebetulan yang tidak mungkin dari elemen-elemen yang berbeda. Tapi teis yang pandai akan mengerti bahwa peristiwa luar biasa tersebut benar-benar tidak melanggar tatanan ilahi manapun. (22)

KESIMPULAN
      Dengan mempertimbangkan beberapa hal ini, maka dapat disimpulkan bahwa peristiwa kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria yang tercatat di dalam Lukas 1:26-38 dan Matius 1:18-25 adalah: (1) peristiwa yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, baik secara historis dan teologis. (2) peristiwa ini telah dikenal secara luas, baik itu di antara komunitas Kristen mula-mula, maupun di kalangan komunitas non-Kristen. (3) peristiwa ini terjadi melalui mujizat (bukan kelahiran normal), di mana Allah bekerja melalui Roh Kudus dan menyebabkan kelahiran Yesus terjadi. (4) peristiwa ini menjadi salah satu pengajaran yang tidak dapat dipisahkan dengan iman Kristen. (5) melalui peristiwa ini, Allah telah menyatakan menggenapi rencana-Nya untuk menebus manusia berdosa.
      Biarlah melalui peristiwa natal kali ini, kita senantiasa mengingat dan mensyukuri bahwa kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara, Maria adalah karya Allah di dalam menggenapi rencana-Nya untuk menebus manusia berdosa. •



Footnotes
01/ Willker, Wieland. A Textual Commentary on the Greek Gospel. 3rd Edition. Bremen: online Published, 2005. p. 9-10.
02/ Umumnya para sarjana biblika setuju bahwa Matius adalah penulis Injil pertama, berdasarkan kesaksian bapa-bapa gereja atau sejahrawan yahudi mula-mula. Injil ini menggunakan nama Matius sebagai judul dari kitab ini.
03/ Scott, J.W. Matthew's Intentions to Write History: Westminster Theological Journal, Volume 47 1# Spring. (Philadelphia, PA: Westminster Theological Seminary) 1985. p.82. dalam Galaxy Software.
04/ Witherington III, Ben. Birth of Jesus in Dictionary of Jesus and the Gospels, Green, Joel G.; McKnight, Scot; Marshall, I. Howard; editors, (Downer's Grove, IL: InterVarsity Press) 1998, c1992.
05/ Kata “ginomai” Roma 1:3, Galatia 4:4, dan filipi 2:7 ditulis “genomenou / genomenon / genomenos” dalam bentuk Aorist middle participle. dikutip dari Rienecker, Fritz. Linguistik Key To The Greek New Testament. Michigan: Zondervan Publishing House, 1980. p.347, 511 & 551.
06/ Di kutip dari J.N.D, Kelly. Early Christian Doctrine: Chapter XVIII: Mary and The Saints. Revised Edition.Peabody: Prince Press, 2003. p.492.
07/ Idem, p.493.
08/ Dikutip dalam Illustrated Bible Dictionary, Part 3: Parable Zuzim, Mary Gladstone, at all, (Edits.), Leicester: InterVarsity Press. 1980. p. 1626.
09/ Dikutip dari artikel The Uniqueness and The Titles of Jesus in Islam. http://answering-islam.org
10/ All Quranic quotations have been taken from the Abdullah Yusif Ali translation of “The Meaning of the Holy Qur'an,” Published by Amana Corporation Brentwood, Maryland, USA, 1993. dikutip dari http://www. al-sunnah.com [Penulis hanya memasukkan sebagian kecil kesaksian Qur'an, mengenai kelahiran Yesus Kristus melalui anak dara Maria untuk menunjukkan fakta kebenaran ini].
11/ Multiple, Bibliotheca Sacra, Vol. 117, Oct. 1960. (Dallas, Texas: Dallas Theological Seminary (Electronic edition by Galaxie Software)) 1999. p. 324.
12/ Dalam LXX, diterjemahkan “Parthenos.” Kata ini umumnya dipakai di dalam MSS, yang menjadi rujukan dari teks-teks PL (Masoret Teks).
13/ Bultema, Harry. Commentary on ISAIAH. Michigan: Kregel Publications, 1981. p. 108
14/ Idem, Vol. 119, July 1962. p. 258.
15/ Dikutip dari A.N.S. Lane, Virgin Birth. Dalam, New Dictionary of Theology, Ferguson, Sinclair B. and David F. Wright, Editors. (Downers Grove, IL: InterVarsity Press) 2000, c1988. dalam Software Logos Librabry.
16/ Band dengan 2 Timotius 3:16 dan 2 Petrus 1:20-21
17/ Dikutip dari, James Montgomory Boice. Foundation of the Christian Faith. A Comprehensive & Readable Theology. Revised in One Volume. Leicester: Intervarsity Press, 1986. p. 287.
18/ Grudem, Wayne. Bible Doctrine: Essential Teachings of the Christian Faith. Michigan: Zondervan Publishing House, 1999. p. 253.
19/ Dikutip dalam artikel: The Truth About Jesus Is He a Myth? Website: http://www.pos1.info
20/ Dikutip dalam artikel, Michael Glegorn, Aren't Miracle Impossible? http://www.probe.org
21/ Dikutip dari, J.P Moreland & William Lane Craig, Philisophical Foundation For A Christian Worldview. Illinois: InterVarsity Press, 2003. p. 573.
22/ Nash, Ronald. Iman dan Akal Budi. Surabaya: Momentum Christian Literature, 2001. p.375.




Kembali ke atas    |    Artikel sebelumnya    |    Artikel selanjutnya    |    Index artikel

 
 

Hubungi Kami