Baptisan Roh Kudus

Oleh: Pdt. Daniel Jonatan

      “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.” (Kis. 2:1-3)
      Pada saat itu terjadi suatu peristiwa sejarah yang hanya terjadi satu kali bersama-sama dan tidak akan terulang lagi, yakni:
• Terjadi pencurahan Roh Kudus (Yoel 2:28-29; Kis. 2:17-21, 33)
• Terjadi baptisan Roh Kudus (Kis. 1:5)
• Terjadi kepenuhan Roh Kudus (Kis. 2:4)
• Terjadi karunia Roh Kudus (Kis. 2:6)
      Dalam Kisah Para Rasul 2:1-36 tidak disinggung tentang hal “Baptisan Roh Kudus” tetapi berdasarkan nubuat Yohanes Pembaptis,(01) yang dikonfirmasi oleh Tuhan Yesus sebelum Dia naik ke sorga(02) maka jelas sekali baptisan Roh Kudus terjadi pada hari Pentakosta.

Katekismus Heidelberg - Pertanyaan 53(03)
P. Apa yang Anda percayai tentang “Roh Kudus” ?
J. Pertama, Bersama dengan Bapa dan Anak, Ia adalah Allah yang kekal (Kej. 1:1-2; Mat. 28:19; Kis. 5:3-4). Kedua, Ia telah diberikan kepada saya secara pribadi, (1Kor. 6:19; 2Kor. 1:21-22; Gal. 4:6). Ia membuat saya turut mengambil bagian dalam Kristus dan semua berkat-berkat-Nya (Gal. 3:14) menghibur saya (Yoh. 15:26; Kis. 9:31) dan menyertai saya selamanya (Yoh. 14:16-17; 1Ptr. 4:14)

Katekismus Singkat Westminster - Pertanyaan 29(04)
P. Bagaimanakah kita dijadikan berbagian dalam penebusan yang dibayar lunas oleh Kristus?
J. Kita dijadikan berbagian dalam penebusan yang telah dibayar lunas oleh Kristus melalui pengaplikasian efektif penebusan itu oleh Roh Kudus-Nya (Tit. 3:5) kepada kita (Yoh. 1:12)

Katekismus Singkat Westminster - Pertanyaan 30(05)
P. Bagaimana Roh Kudus menerapkan kepada kita penebusan yang dibayar lunas oleh Kristus itu?
J. Roh Kudus menerapkan kepada kita penebusan yang telah dibayar lunas oleh Kristus (Yoh. 6:63), dengan mengerjakan iman di dalam kita, (Ef. 2:8) dan dengan demikian mempersatukan kita dengan Kristus dalam panggilan efektif kepada kita ( 1Kor. 1:9)

APAKAH YANG DISEBUT BAPTISAN ROH KUDUS?
Istilah “Baptisan Roh Kudus” muncul tiga kali dalam Alkitab yakni:
1. Nubuat Yohanes pembaptis (Mat. 3:11; Luk. 3:16)
2. Janji Yesus sebelum naik ke sorga (Kis.1:5)
3. Pernyataan Paulus (1Kor. 12:13)

      Janji Tuhan Yesus sebelum naik ke sorga adalah suatu konfirmasi nubuat Yohanes Pembaptis, dengan suatu perintah untuk “menantikan janji Bapa” bukan “menuntut” (Kis. 1:4-5), seperti pendapat sebagian orang yang sangat menekankan penuntutan baptisan Roh Kudus. Menanti di Yerusalem bukan satu “syarat”. Jika itu satu syarat, maka setiap kita harus ke Yerusalem baru mendapat “baptisan Roh Kudus”. Baptisan Roh Kudus hanya terjadi 1 kali dalam sejarah pada hari Pentakosta, sebagai simbol lahirnya gereja Tuhan. Selanjutnya, setiap orang yang tergabung dalam tubuh Kristus, secara otomatis sudah menerima baptisan Roh Kudus. Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa “karunia lidah” adalah syarat utama atau sebagai suatu konsekuensi logis dari baptisan Roh Kudus. Kalau toh itu terjadi bersama-sama baptisan Roh Kudus dan karunia lidah, ini bukan berarti diulang terus-menerus dalam sejarah.

A. Unsur baptisan air dan baptisan Roh Kudus
BAPTISAN AIR                                       BAPTISAN ROH KUDUS
• Subyek: Yohanes Pembaptis                 • Subyek: Tuhan Yesus
• Obyek: Orang Yahudi                            • Obyek: Orang Kristen (Umat Pilihan)
• Instrumen: Air                                       • Instrumen: Roh Kudus
• Tujuan: Pertobatan                                • Tujuan: Masuk Tubuh Kristus

B. Kapan terjadi baptisan Roh Kudus
1. Bersifat umum: terjadi pada hari Pentakosta di mana gereja lahir
2. Bersifat khusus: terjadi saat kelahiran baru (regenerasi)
      Baptisan Roh Kudus terjadi pada hari Pentakosta (Kis. 1:5) dan hanya terjadi satu kali dalam sejarah (Ef. 4:5). Kemudian setiap kali seorang dilahirkan baru, percaya dan bertobat, secara otomatis dia tergabung dalam tubuh Kristus dan terhisap dalam baptisan Roh Kudus yang terjadi pada hari Pentakosta (1Kor. 12:13). Hal ini sama dengan hal: “Kapan Yesus mati bagi kita?” Ketika Dia disalib di Golgota, itu terjadi hanya 1 kali dan tidak terulang dalam sejarah, tetapi pada saat kita percaya dan bertobat, kita katakan bahwa Yesus telah mati bagi kita. Dengan kata lain, kita terhisap dalam kematian Yesus disalib dua ribu tahun yang lalu, jadi bukan berarti setiap kali ada orang percaya dan bertobat, Yesus mati lagi (berulang-ulang mati bagi kita).

C. Perbandingan baptisan Roh Kudus dan kepenuhan Roh Kudus
BAPTISAN ROH KUDUS                          KEPENUHAN ROH KUDUS
• Baptisan Roh adalah sebab                    • Kepenuhan Roh adalah akibat
• Terjadi hanya 1 kali tidak terulang            • Terjadi berulang-ulang
• Tidak bisa hilang selamanya                   • Bisa hilang
• Otomatis saat regenerasi - percaya         • Harus menuntut



PENYIMPANGAN TAFSIRAN BAPTISAN ROH KUDUS
1. Tafsiran Yohanes 3:3-6
      Yesus menjawab, kata-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Kata Nikodemus kepada-Nya: “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. (Yoh. 3:3-6)
      Dalam bagian Alkitab di atas, 6 kali memakai istilah “dilahirkan” (Yunani: ‘geneto’), tetapi entah bagaimana, istilah ini diganti dengan dibaptiskan (Yunani: ‘baptiso’) sehingga timbul tafsiran, sesungguhnya jika seorang tidak dibaptis dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Maka timbul doktrin yang sama sekali menyimpang dari kebenaran firman Tuhan, di antaranya, baptisan air ditafsirkan sebagai kelahiran baru seseorang bahkan sebagai syarat mutlak untuk masuk Kerajaan Allah. Padahal jelas sekali di sini Tuhan Yesus berbicara tentang “kelahiran” bukan “baptisan”. Oleh sebab itu, mendengar perkataan Yesus, Nikodemus merasa terheran-heran, bagaimana seorang yang sudah tua seperti dia harus masuk kembali ke rahim ibunya dan dilahirkan kembali? Jika Yesus berbicara tentang baptisan, pasti respon Nikodemus akan berbeda sekali. Air dan Roh dalam konteks ini sebagai lambang sesuatu yang natural dan supranatural, artinya, kita tidak cukup dilahirkan dari daging (natural) saja, melainkan harus dilahirkan juga dari Roh (supra natural). Jadi jelas di sini Yesus bukan berbicara tentang “baptisan Roh Kudus”.

2. Ajaran Gerakan Pentakosta dan Neo Pentecostal (karismatik)
      a. Akhir abad 19–31 Desember 1900
      Dalam doa semalam suntuk di Sekolah Alkitab Topeka, Kansas USA, ketika Rev. Ch. P. Parham tumpang tangan di atas kepala seorang mahasiswa Agnes Ozman, tiba-tiba dia berkarunia lidah (glossolalia), kemudian merambat ke banyak orang, dan muncullah ajaran Parham: “Bagi setiap orang yang dibaptis Roh Kudus, juga dipenuhi Roh Kudus dan harus bisa berkarunia lidah. Juga mengharuskan setiap orang Kristen harus menuntut dengan hebat baptisan, kepenuhan dan karunia Roh Kudus. Sejak itu terbuka lembaran sejarah baru gerakan Pentakosta yang dengan cepat merambat ke seluruh pelosok dunia.
      b. 3 April 1960
      Rev. DJ. Bennet dari Gereja Episkopal di California, mengklaim dirinya memperoleh pengalaman yang baru, yakni menerima baptisan Roh Kudus dan karunia lidah, maka mulailah lembaran sejarah Neo Pentecostal atau kini dikenal sebagai gerakan karismatik—kemudian mengilhami gerakan Toronto Blessing yang dipelopori John Wimber dari Gereja Vineyard Kanada, yang menyatakan mengalami lawatan Roh Kudus yang dahsyat dengan gejala-gejala rebah ke tanah, bergetar, menangis, tertawa, mabuk, mengaum seperti singa. Gerakan ini melanda Indonesia tahun 1995, dipelopori Pdt. Martin Landena dari GKPB Masa Depan Cerah Surabaya. Fenomena ini juga terjadi dalam kebaktian Gereja Injil Seutuh Indonesia (GISI) di Hotel Shangri-La, Surabaya.(06)

Kelebihan Gerakan Karismatik:
1. Meninggikan Yesus sebagai Tuhan (Yoh. 16:14)
2. Menekankan doa pujian dan penyembahan
3. Rajin membaca firman Tuhan
4. Persekutuan yang erat di antara sesama anggota
5. Pengabaran Injil (PI) dengan semangat yang tinggi
      Kita tidak bisa tutup mata terhadap kemajuan pesat dari gerakan karismatik, sehingga gereja terbesar di dunia didominasi oleh mereka, baik di Brazil maupun di Korea. Tetapi kita juga harus jeli dan cermat dalam menyikapi gerakan karismatik yang menekankan pengalaman-pengalaman baru dan spektakuler, namun mengabaikan doktrin yang sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, khususnya tentang baptisan Roh Kudus dan karunia lidah. Menurut ajaran mereka, seseorang tidak cukup hanya percaya Tuhan Yesus dan diselamatkan, melainkan harus menuntut untuk menerima baptisan Roh Kudus dengan tanda yang nyata yakni berbahasa Roh, jika seorang tidak dibaptis dengan Roh Kudus, maka dia tidak akan duduk dalam pesta perjamuan kawin Anak Domba Allah, hal ini menimbulkan tingkatan-tingkatan rohani dalam gereja Tuhan.



PENYIMPANGAN DOKTRIN ROH KUDUS
Menyimak karunia supranatural kontemporer

• Abad 1: karunia supranatural yang terjadi di jemaat Korintus(07)
• Abad 2: gerakan Montarism muncul dengan menekankan karunia supranatural dan lenyap pada abad 4.
• Anabaptists muncul pada zaman reformasi dengan menekankan karunia supranatural, tetapi kemudian lenyap tanpa pengaruh yang berarti terhadap gereja.
• Abad 19, di Inggris muncul gerakan Irvingites, yang dipelopori Edward Irving sangat menekankan karunia lidah dan kesembuhan ilahi.
• Abad 20, gerakan Pentecostalism (Charismatic Renewal) dari Amerika tampil ke atas panggung selama 1 abad lebih mempengaruhi berbagai aliran gereja di penjuru dunia hingga hari ini.

1. Apakah yang disebut “karisma” ?
      Yang disebut ‘karisma’ oleh gerakan karismatik, bukan hanya ditujukan pada karunia, tetapi juga dikaitkan langsung dengan karunia lidah (glossolalia), karunia kesembuhan ilahi (faith healing) dan karunia mengusir setan. Di samping itu dalam gerakan karismatik ada 2 tiang penyangga yang sangat penting dan menonjol ialah karunia lidah dan kesembuhan ilahi. Oleh sebab itu, yang disebut “karisma” biasanya ditujukan kepada karunia rohani, khususnya yang bersifat supranatural.

2. Karakteristik gerakan karismatik
      a. Suatu gerakan pembaharuan (renewal movement)
      Gerakan karismatik sangat menekankan adanya pekerjaan Roh Kudus yang dahsyat yang membawa suatu kebangunan dan pembaharuan, mereka menentang otoritas organisasi gereja yang konservatif. ES. Williams berkata: “Tuhan sudah memimpin gereja keluar dari organisasi yang ketat, konservatif dan statis menuju pada gereja yang hidup dan dinamis.” Mereka menyebut gereja yang konservatif sebagai menara Babel, gereja yang gelap tanpa pengharapan dan memerlukan suatu pembaharuan.
      b. Meninggikan pengalaman religius yang subyektif
      Menekankan pekerjaan Roh Kudus, sehingga cenderung pada pengalaman yang subyektif, kesembuhan, kelimpahan materi, macam-macam mujizat. Sering menganggap pelampiasan emosional yang menggebu-gebu sebagai gerakan dan pimpinan Roh Kudus. Ambisi pribadi sering dijelaskan sebagai kehendak Tuhan. Pengalaman pribadi menjadi sebuah prinsip yang dianggap sebagai teladan iman yang harus disaksikan, diajarkan dan disebarluaskan.
      c. Kultus individu
      Menekankan iman pribadi seseorang, bagi tokoh yang menonjol dan berkarisma dianggap sebagai panutan yang harus dikagumi bahkan dicontoh, tanpa mempertimbangkan apakah ajarannya sesuai dengan firman Tuhan (Alkitab), sehingga tanpa disadari terjerumus dalam kultus individu.
      d. Positivism Religius
      Sangat menekankan suatu bukti yang konkrit yang nampak, karunia lidah dianggap suatu bukti kepenuhan Roh Kudus, kesembuhan dianggap sebagai bukti iman dan tanda suatu agama yang benar, kesuksesan sebagai bukti penyertaan Allah. Menarik banyak sekali utilitarianism masuk ke dalam gereja untuk mencari kesembuhan, secara tidak sadar telah mencetak anggota-anggota jemaat yang hanya meminta dan meminta kepada Tuhan, sehingga lebih mementingkan mendapat berkat-berkat Tuhan dibandingkan mendapat Tuhan sendiri.
      e. Mengabaikan pelajaran dalam sejarah
      Selalu mengharapkan pengalaman yang baru, sebagai bukti iman yang sejati, pengalaman kesembuhan, pertobatan, keluarga dipulihkan, usaha berkembang maju, mujizat yang bersifat spektakuler. Pengalaman yang baru disaksikan di hadapan umum sebagai bukti lawatan Roh Kudus dan kebangunan iman kerohanian. Mengabaikan makna dan nilai sejarah, tidak mau belajar dari sejarah. Tokoh-tokoh iman sepanjang sejarah dianggap tidak dipenuhi Roh Kudus, mereka berpendapat bahwa dirinya jauh melebihi orang-orang kudus masa lalu. Gereja sepanjang sejarah kering, statis dan membosankan, perasaan yang merangsang dan meng-gebu-gebu dengan berbagai ekspresi yang emosionil dianggap sebagai gerakan Roh Kudus. Semua doktrin dan ajaran yang tidak sesuai dengan pengalaman mereka dengan mudah ditinggalkan begitu saja.
      f. Mengemukakan konsep yang bersifat konfrontasi
      Selalu mengkonfrontir 2 hal sebagai dasar berpikir, emosi dikonfron-tir dengan rasio, rohani dikonfrontir dengan jasmani, manusia yang baru dikonfrontir dengan si aku yang lama, kekudusan dikonfrontir dengan duniawi, pekerjaan Roh Kudus dikonfrontir dengan pekerjaan lahiriah, pengalaman dikonfrontir dengan sejarah, makin banyak yang dikonfron-tir, merasa makin rohani, makin suci, makin dipenuhi Roh Kudus.
      g. Pelampiasan emosionil yang meluap-luap
      Menggunakan waktu yang lama untuk menuntut Roh Kudus, dengan doa puasa, doa berantai, doa semalam suntuk. Berusaha keras untuk berbahasa Roh (glossolalia), sebagai bukti telah menerima baptisan Roh Kudus. Berdoa dengan berbagai macam cara, dalam kelompok besar atau kecil, kejang-kejang, rebah dan berguling-guling di tanah, menangis, menjerit, mengaum, tertawa, melompat, bahkan sampai pingsan. Fenomena di atas ditafsirkan sebagai pekerjaan Roh Kudus yang dahsyat. Hal di atas tidak sesuai dan berbeda dengan ajaran Alkitab,(08) tetapi telah menarik simpati banyak orang, sehingga mereka berduyun-duyun menjadi pengikut tanpa mau membayar harga mempelajari firman Tuhan dengan benar. Pelampiasan emosi yang meluap-luap dianggap jauh lebih mudah dan instan untuk menjadi orang yang rohani dan terkenal dibandingkan dengan harus dengan tenang dan teliti belajar firman Tuhan.
      h. Mengagungkan diri sendiri
      Secara subyektif dan gegabah mengklaim bahwa hanya merekalah yang dipenuhi Roh Kudus, sedangkan orang lain dalam kondisi kering tanpa lawatan Roh Kudus. Bagi yang bisa berbahasa Roh baru dikatakan sudah dibaptis Roh Kudus dan dipenuhi Roh Kudus. Yang lebih parah, dengan berani ketika merasa dipenuhi Roh Kudus mereka memakai kata ganti orang pertama bernubuat dan memproklamirkan diri sebagai Allah atau Yesus Kristus. “Aku adalah Allah Bapa yang hadir ditengah-tengah kalian”, “Aku adalah Kristus, kalian harus datang menyembahku.”(09)
      i. Mengimplentasikan pendapat pribadi pada firman Tuhan
      Memakai beberapa ayat mengklaim bahwa orang yang dipenuhi Roh Kudus harus berbahasa Roh,(10) dengan mengabaikan ayat-ayat lain yang lebih luas. Memang dalam Alkitab tercatat ada beberapa kali orang yang dipenuhi Roh Kudus sekaligus berbahasa lidah, tetapi banyak ayat yang menyatakan bahwa dipenuhi Roh Kudus tanpa berbahasa lidah. Tuhan Yesus sepanjang hidup-Nya dipenuhi Roh Kudus, namun Alkitab belum pernah mencatat Yesus berbahasa Roh, Yohanes Pembaptis dipenuhi Roh Kudus sejak dalam kandungan ibunya, tetapi belum pernah sekalipun Yohanes Pembaptis berbahasa Roh, bahkan Yohanes Pembaptis belum pernah melakukan satu mujizat pun, namun siapa berani mengatakan bahwa dia tidak dipenuhi Roh Kudus? Di samping itu berbahasa Roh yang selalu didengung-dengungkan dan dianjurkan dalam suatu ibadah juga tidak sesuai dengan ajaran firman Tuhan.(11)
      j. Menuntut kuasa
      Selalu menuntut kuasa dengan berbahasa Roh, misalnya kuasa kesembuhan, kuasa mengusir setan, kuasa pelepasan, yang secara tidak sadar memanipulasi Tuhan dan Roh Kudus untuk mendukung ajaran mereka. Ingat, di dalam kekristenan tidak pernah ada satu gereja lebih keramat dibandingkan dengan gereja lain. Sebagai contoh, GKA lebih keramat daripada GKI, jika berdoa di GKA pasti dikabulkan, demikian juga belum pernah ada seorang pendeta lebih sakti dari pendeta yang lain, ini adalah praktik perdukunan. Menuntut kuasa dengan berbagai macam cara tanpa dengan jujur dan sungguh-sungguh menggumulinya di bawah terang firman Tuhan, akan secara tidak sadar membawa praktik-praktik perdukunan masuk ke dalam gereja Tuhan.



KESIMPULAN
      1. Baptisan Roh Kudus dan diselamatkan tergabung dalam tubuh Kristus adalah hal yang sama, pada saat seorang dilahirkan baru dan percaya kepada Tuhan Yesus, dia sekaligus terhisap baptisan Roh Kudus dan diselamatkan.
      2. Baptisan Roh Kudus, kepenuhan Roh Kudus dan berbahasa Roh terjadi bersama-sama hanya satu kali pada hari Pentakosta dan tidak akan terulang lagi.
      3. Karunia lidah (bahasa Roh) tidak bisa dicampuradukkan dengan baptisan Roh kudus.
Kita harus peka terhadap pimpinan Roh Kudus dan mengkritisi semua doktrin di bawah terang firman Tuhan. •



Footnotes
01/ Lihat Matius 3:11 dan Lukas 3:16
02/ Lihat Kisah Para Rasul 1:5
03/ Katekismus Heidelberg, terjemahan Dep. Dogma dan Penelitian Sinode GKT. Hal. 27
04/ Williamson GI, Katekismus Singkat Westminster 1, (Surabaya: Penerbit Momentum, 2006) Hal. 183
05/ Ibid. Hal. 191
06/ Herlianto, Toronto Blessing Lawatan Roh Allah Masa Kini, (Bandung: Yabina, 1995) Hal. 8-11
07/ Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (1Kor. 12:9-10)
08/ Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera... Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur. (1 Korintus 14:33, 40)
09/ Pdt. Stephen Tong pernah berkata: “Barang siapa dalam berbahasa Roh memakai kata ganti orang pertama, misalnya aku adalah Allah, aku adalah Kristus, itu pasti berasal dari iblis yang menyamar, karena dalam Alkitab para nabi selalu berkata: “Demikianlah Firman Tuhan...”
10/ Lihat Kis. 10:44-46; 19:6 bnd. Luk. 1:15,67; 4:1; Kis. 4:8, 31; 6:5; 7:55; 9:17-18; 13:9-11
11/ Lihat 1 Kor. 14:26-33




Kembali ke atas    |    Artikel sebelumnya    |    Artikel selanjutnya    |    Index artikel

 
 

Hubungi Kami