Tantangan Misi Masa Kini

Oleh: Ev. Kango Lukito

      Berbicara mengenai tantangan misi mungkin ada yang berpendapat dan berkomentar sebagai berikut:
• “Untuk apa membicarakan misi?” Kelihatannya arogan kalau berpikir bahwa agama kita lebih baik dari yang lain. Biarlah orang mengikuti agama apa saja, yang penting baik. Mengapa kita mau merubah mereka?
• “Tidak perlu terlibat dalam misi.” Misi sudah berakhir puluhan tahun yang lalu. Bukankah itu sesuatu yang berhubungan dengan kolonialisme, membuka hutan, melayani orang-orang di pedalaman.
• “Kita toh tidak mungkin mengirim misionaris.” Kebutuhan gereja kita sangat besar, kita butuh misionaris yang datang dan melayani pelayanan di sini bukan mengirim ke tempat lain.
• “Gereja, kan sudah melakukan misi.” Lihatlah kami juga punya pos-pos dan membangun gereja baru.
      Menanggapi komentar-komentar seperti itu, nampaknya misi sudah tidak diperlukan lagi bagi gereja. Apakah benar gereja sudah tidak perlu melaksanakan misi? Apakah misi sudah tidak relevan lagi bagi orang Kristen atau sebaliknya malah membuat kita makin menyadari justru misi merupakan tantangan yang harus dihadapi dan digenapi? Menjawab semua pertanyaan itu, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu apa arti misi.

Misi: Tujuan hidup setiap orang Kristen
      Kata “misi” (mission) saat ini telah terdistorsi ke dalam penggunaan yang sangat luas. Penjelasan yang cukup tepat menurut Patrick Johnstone dalam bukunya The Church is Bigger Than You Think, adalah: “Mission is the loving work of God to bring humankind to himself as the Church. As a secondary working of this, mission is the overall ministry of the Church for wolrd evangelization.”
      Misi hendaklah dipandang sebagai rencana keselamatan Allah untuk membawa umat manusia mengenal dan menyembah Dia melalui Gereja-Nya. Dan gereja maupun setiap orang Kristen adalah alat untuk mengemban misi Allah ini kepada semua umat manusia melalui penginjilan dunia.
      Pertanyaan pertama dalam buku katekismus Westminster, ialah “Apakah tujuan akhir manusia?” dan jawabannya: “Tujuan akhir manusia ialah memuliakan Allah dan menikmati Dia selamanya.” Memang benar bahwa seluruh alam semesta ini dengan segala isinya diciptakan Allah mempunyai satu tujuan yaitu, memuliakan dan menyenangkan Sang Penciptanya. Terlebih lagi manusia yang merupakan ciptaan yang istimewa, yaitu serupa dan segambar Allah. Dia menghendaki supaya manusia hidup memuliakan dan menyenangkan hati-Nya. Hidup yang memuliakan Allah ialah dengan mengenal dan menyembah Allah, dan hal ini akan terjadi melalui Yesus Kristus. Seperti yang dikatakan dalam Alkitab “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).
      Pendeta John Piper dalam bukunya “Jadikan Sekalian Bangsa Bersukacita” menjelaskan bahwa tujuan akhir Allah di sepanjang sejarah ialah menyatakan kemuliaan-Nya bagi kesukaan orang-orang tebusan-Nya dari segala suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. Membawa semua umat manusia mengenal dan menyembah kepada Allah, inilah misi setiap gereja maupun orang Kristen.
      Kemudian Rick Warren dalam bukunya yang menjadi best seller di Amerika, “The Purpose Driven Life” menjelaskan, bahwa misi merupakan salah satu tujuan hidup orang Kristen. You were made for a mission, yaitu bahwa setiap orang diciptakan untuk melaksanakan misi. Salah satu dari lima tujuan hidup yang Allah kehendaki bagi setiap orang Kristen ialah melaksanakan misi Tuhan Yesus di dunia selain Penyembahan, Persekutuan, Pelayanan, dan Pertumbuhan. Fulfilling your mission in the world is God’s fifth purpose for your life. Fulfilling your life mission on earth is an essential part of living for God’s glory.
      Jadi melakukan misi adalah tindakan yang memuliakan dan menyenangkan hati Allah dan ini harus menjadi tujuan hidup dari setiap orang yang sudah diselamatkan oleh Yesus Kristus.

Misi: Amanat Agung yang harus ditaati
      Sebelum naik ke sorga dan meninggalkan para murid-Nya, Yesus memberikan tugas kepada mereka untuk memberitakan Injil dan menjadi saksi. Tugas Tuhan Yesus itu begitu penting, sehingga dicatat pada setiap akhir dari keempat kitab Injil, dan di awal kitab Kisah Para Rasul. Jadi perintah itu dicatat lima kali dalam kitab Perjanjian Baru. Isi dari perintah Tuhan Yesus itu pada dasarnya sama, yaitu supaya semua orang Kristen melaksanakan misi, pergi menjadi saksi Kristus memberitakan Injil ke seluruh dunia dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. (Mat. 28:19-20; Mrk. 16:15; Luk. 24:47-48; Yoh. 20:21; Kis. 1:8)
      Perkataan Tuhan Yesus yang dicatat pada lima bagian tadi merupakan ‘pesan terakhir’ Tuhan sebelum meninggalkan dunia ini. Biasanya pesan terakhir seseorang yang akan meninggal itu sangat penting untuk diperhatikan dan dilaksanakan oleh keluarganya atau orang dekatnya. Jika amanat manusia begitu penting, terlebih lagi amanat Yesus yang adalah Tuhan di atas segala Tuhan, Raja di atas segala raja, maka perintah itu haruslah dilakukan oleh setiap kita yang mengaku percaya kepada Kristus.
      Perintah Kristus ini dikenal dengan sebutan ‘Amanat Agung’ karena merupakan pesan atau perintah terbesar, yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap kita untuk ditaati. Amanat Agung ini merupakan misi setiap orang Kristen. Karena itu kita harus melihat dan menyadari betapa pentingnya misi, yang selain merupakan tujuan hidup kita, juga merupakan perintah yang harus kita laksanakan.

Menyelesaikan tantangan misi
      Sudah 2.000 tahun lebih Amanat Agung Tuhan Yesus diberikan kepada orang Kristen, namun tugas besar ini masih belum selesai. Kenapa dikatakan demikian? Karena jika tugas pemberitaan Injil ini sudah mencapai seluruh suku bangsa, maka dunia ini akan berakhir dan Tuhan Yesus akan datang kembali (Mat. 24:14).
      Sekitar separuh penduduk dunia (3,05 milyar) tinggal di antara ‘reached’ people groups (suku terjangkau). Yaitu orang-orang yang dapat dan pernah mendengar Injil, di mana juga terdapat orang-orang Kristen (gereja) di dalamnya. Jumlah ini ada sekitar 13.000 kelompok suku.
      Sisanya (2,2 milyar) orang tinggal di wilayah ‘unreached’ people group (suku terabaikan), yaitu kelompok di mana Injil tidak pernah didengar, juga tidak ada orang Kristen/gereja di dalamnya. Jumlah ini ada sekitar 12.000 suku yang tersebar mulai dari Afrika Utara sampai Asia Tengah dan Asia Timur.
      Di Indonesia sendiri terdapat 129 suku terabaikan dengan jumlah sekitar 130 juta orang. Orang sebanyak ini berada di dalam kelompok yang belum pernah mendengar Injil. Bahkan ada suku di mana tidak terdapat seorang Kristen pun. Ada sekitar 60% penduduk Indonesia yang belum mendengar Injil, dan hal ini merupakan tantangan misi bagi setiap gereja maupun orang Kristen di Indonesia.
      Dalam Kisah Para Rasul 1:8, Tuhan Yesus memberikan perintah supaya kita “…menjadi saksi-Ku di Yerusalem, dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Dalam Amanat Agung ini kita mendapat tugas untuk menjadi saksi atau memberitakan Injil kepada kelompok orang-orang secara bersamaan dan bukan salah satu. Kepada orang-orang yang dekat atau sekelompok dengan kita (Yerusalem), kepada orang-orang yang sesuku dengan kita (Yudea), kepada orang-orang yang berbeda budaya dan suku dengan kita, namun tinggal di sekitar kita (Samaria), dan juga kepada kelompok orang-orang yang berada di luar dari suku dan budaya yang tinggal di wilayah yang jauh dari kita (ujung bumi).
      Misi untuk memberitakan Injil bukan hanya terbatas kepada salah satu suku/kelompok saja tapi kepada semua kelompok suku. Bukan hanya kepada sukunya sendiri tapi juga harus kepada suku yang lain. Untuk mengabarkan Injil kepada semua orang di muka bumi ini adalah hal yang mustahil, namun memberitakan Injil kepada semua suku bangsa (sekitar 12.000 kelompok) adalah mungkin. Mengabarkan Injil kepada 130 juta penduduk di Indonesia adalah tugas yang tidak mungkin, namun memberitakan Injil kepada 129 suku dan menjadikan mereka sebagai murid Kristus bukanlah tidak mungkin.
      Sudah saatnya, gereja tidak hanya sibuk mengurusi diri-sendiri atau hanya memikirkan kepentingan gereja sendiri, melainkan harus menjadi gereja yang misioner, yaitu gereja yang melakukan misi. Demikian juga orang Kristen, tidak boleh egois dan mengambil sikap tidak peduli dengan orang lain. Rick Warren mengajarkan supaya kita jangan menjadi “Worldy Christian but be a worldclass Christian.” Artinya, jangan menjadi orang Kristen duniawi tapi jadilah orang Kristen yang mendunia.
      Gereja harus memikirkan pelayanan keluar, meninggalkan daerah kenyamanannya yang empuk dan nikmat. Tidak usah jauh-jauh, misi itu bahkan ada yang di depan pintu kita, yaitu orang-orang yang “dekat” dengan kita, orang-orang satu suku dengan kita yang belum diselamatkan. Mereka adalah tanggung jawab kita masing-masing pribadi, bukan hanya tanggung jawab hamba Tuhan, Pengurus atau Majelis. Pernahkah kita merenungkan, mengapa kita berada di antara mereka? Satu alasan yang pasti, Allah menghendaki agar kita menjadi saksi-Nya, untuk menjangkau mereka dan membawanya pada Yesus.
      Misi itu juga ada di tempat yang “jauh” yaitu orang-orang yang belum dengar Injil dan kita dapat menjangkau mereka melalui doa syafaat untuk mereka. Dukungan dana kepada lembaga-lembaga misi juga sangat diperlukan karena tanpa dukungan dana yang cukup, para pekerja misi sulit bertahan di ladang-ladang misi yang berat. Bahkan jika diperlukan, berikan dukungan daya dengan mempersembahkan diri untuk terlibat aktif dalam ladang misi, baik secara langsung atau tidak langsung.
      Gereja maupun orang Kristen yang mau bertumbuh dan diberkati Tuhan, haruslah memiliki hati misi, yaitu hati yang mempunyai kerinduan untuk memenangkan jiwa bagi Tuhan. Gereja sebagai tubuh Kristus tidak boleh tidak harus melakukan misi karena ini adalah perintah. Orang Kristen yang telah ditebus oleh Kristus juga tidak boleh egois hanya menikmati anugerah keselamatan untuk diri sendiri, melainkan harus membagikan anugerah itu kepada orang yang belum mendengar Injil.
      Rasul Yohanes di kitab Wahyu 7:9 menuliskan visinya, yaitu akan terjadi kelak di sorga di hadapan tahta Kristus akan berkumpul orang dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa. Visi ini pasti akan terjadi nanti, masalahnya apakah kita mau ikut terlibat di dalamnya atau tidak? Menjadi pelaku firman tentu jauh lebih berarti daripada hanya menjadi penonton. Karenanya, mari libatkan diri lebih lagi dalam kegerakan besar, menggenapi misi Allah di muka bumi ini. •



Kembali ke atas    |    Artikel sebelumnya    |    Artikel selanjutnya    |    Index artikel

 
 

Hubungi Kami