Amanat Agung Tuhan Yesus

Oleh: Pdt. William Liem

      Sebelum Tuhan Yesus terangkat ke sorga, Ia memberikan suatu pesan terakhir yang amat penting kepada murid-murid-Nya: “Karena itu pergilah, jadikan semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat. 28:19-20). Pesan Tuhan Yesus yang terakhir dan amat penting ini, di kemudian hari juga dikenal sebagai Amanat Agung, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut “The Great Commission.”
      Tuhan Yesus mengerti bahwa melaksanakan Amanat Agung ini tidak mudah, maka Ia berkata kepada murid-murid-Nya di tempat yang lain: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis. 1:8). Maka pada hari Pentakosta, ketika Roh Kudus turun atas murid-murid Tuhan Yesus, Petrus segera berdiri di hadapan orang banyak dan memberitakan Injil di Yerusalem, hasilnya adalah 3.000 jiwa bertobat dan memberi diri dibaptis. Dalam perkembangan berikutnya, murid-murid Tuhan Yesus semakin giat memberitakan Injil, dan orang-orang yang bertobat serta menerima Tuhan Yesus semakin bertambah di Yerusalem.
      Akan tetapi, Tuhan Yesus tidak menginginkan Injil-Nya hanya diberitakan di Yerusalem, murid-murid-Nya juga harus melakukannya di Yudea, Samaria dan sampai ke ujung bumi. Itulah sebabnya, Ia mengizinkan penganiayaan terjadi di Yerusalem, sehingga murid-murid harus meninggalkan kota itu dan pergi ke berbagai tempat untuk memberitakan Injil. Karena ketaatan orang-orang Kristen dari zaman ke zaman dalam melaksanakan Amanat Agung, maka Injil dapat tiba pula di Indonesia. Agar Injil dapat terus diberitakan sampai kedatangan Tuhan Yesus kedua kali, orang-orang Kristen masa kini harus taat juga dalam melaksanakan Amanat Agung ini.
      William Barclay berkata: “Bukan hanya suatu hak khusus orang Kristen menerima iman Kristen, tapi juga menjadi suatu kewajibannya untuk memberitakannya kepada orang lain. Setiap orang percaya harus melihat dirinya sebagai penghubung antara dua generasi… Gereja Tuhan amat bergantung pada pengabar-pengabar Injil yang sambung-menyambung seperti mata rantai yang tak putus” (Barclay, “The Letters to Timothy, Titus, and Philemnon,” hal. 158). Selanjutnya kita akan belajar apakah isi dari Amanat Agung Tuhan Yesus yang amat penting itu dan harus ditaati oleh orang Kristen?

Pertama: “Pergilah, dan jadikan semua bangsa murid-Ku.”
      Kata kerja “pergilah dan jadikan” merupakan dua kata kerja perintah yang aktif. Bila itu adalah perintah yang aktif, berarti orang Kristen harus berinisiatif menaati-Nya. Memberitakan Injil bukan lagi suatu opsi, tapi suatu keharusan dan tanggung jawab orang percaya. Rick Warren mengatakan: “Setiap orang Kristen adalah duta Kristus. Ke manapun ia pergi, sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memberitakan bahwa Kristus telah datang ke dalam dunia; Ia telah mati di atas kayu salib; Ia telah bangkit dan berjanji akan datang kembali untuk kedua kali. Suatu hari kelak, orang percaya harus mempertanggungjawabkan di hadapan Tuhan tentang seberapa seriuskah ia memberitakan Injil.” (Warren, “The Purpose Driven Church” hal. 104).
      Namun dalam memberitakan Injil, suatu hal yang perlu orang percaya camkan adalah ia bukan hanya sekadar memberitakannya, dan setelah itu ia menganggap tugasnya selesai. Tidak. Melainkan ia harus berusaha demikian rupa sehingga orang yang diinjili rela menjadi murid Tuhan Yesus. Perkataan “murid” di sini lebih ditekankan pada fakta bahwa pikiran, hati dan kehendak orang itu harus dimenangkan bagi Tuhan.
      Seorang murid adalah seorang yang mau belajar. Ia perlu mengetahui akan kondisinya yang terhilang, rencana Tuhan yang menyelamatkan dunia, kasih-Nya kepada orang-orang berdosa, pertobatan, pengudusan, dsb. Mengerti semua hal di atas dengan pikiran belum menjadikan seorang itu murid. Seorang murid Tuhan yang sejati adalah setelah mengerti kebenaran-kebenaran di atas, ia mempraktekkannya dalam hidupnya, dan mengalami sendiri kebenaran-kebenaran itu.
      Bila hal ini terjadi maka akan ada suatu transformasi dari dalam diri orang itu. Transformasi inilah yang akan menciptakan suatu hubungan yang erat dan komitmen yang dalam dari orang itu dengan Tuhan Yesus. Ini seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Yoh. 8:31-32: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Hendriksen, The Gospel of Matthew, hal. 1001).

Kedua: “Baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.”
      Sebagai orang Kristen kita dipangil bukan hanya untuk percaya, tapi setelah dibina dengan baik, ia harus menerima baptisan air. Mengapa orang percaya perlu dibaptis? Dalam jawaban Tuhan Yesus kepada Yohanes Pembaptis, Yesus berkata: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” (Mat. 3:15). Jadi, baptisan air itu penting, karena baptisan air menggenapkan kehendak Allah.
      Selain itu, “dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” mempunyai makna rohani yang amat dalam. Menurut adat pada waktu itu, dibaptis dalam nama seseorang menandakan tanda kepemilikan. Seorang yang dibaptis atas nama seseorang berarti ia dibawa masuk ke dalam suatu relasi yang intim dengan orang yang mempunyai nama itu. Jadi, orang percaya yang dibaptis dalam nama Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, berarti ia dibawa masuk ke dalam suatu relasi yang amat dalam dengan Allah Bapa, Anak, dan Roh dan menjadi milik Allah Tritunggal.
      Bila ia telah menjadi milik Allah Tritunggal, berarti secara otomatis ia menjadi anggota keluarga Allah. “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,” kata rasul Paulus (Ef. 2:19). Baptisan air penting, karena orang yang menerima baptisan itu bukan hanya mengenapkan kehendak Allah, tapi juga sebagai simbol persekutuan antar anggota keluarga Allah. Maka bagi kita yang sudah lahir baru dan belum dibaptis perlulah segera mengikuti kelas katekesasi dan dibaptis. Pepatah Inggris berkata: “Don’t put it off tomorrow, what you can do today.”

Ketiga: “Ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”
      Panggilan Gereja bukan saja menginjili orang-orang yang belum percaya, tapi setelah bertobat, mereka perlu diajar. Kata kerja “ajarlah” yang dimaksud dalam ayat ini adalah dimuridkan. Pemuridan adalah suatu proses membantu umat Allah bertumbuh menjadi semakin menyerupai Kristus dalam perasaan, pikiran dan perbuatan. Menurut Irvin A. Busenitz, ada empat wilayah di mana orang Kristen perlu bertumbuh menyerupai Kristus:
      1. Kehidupan moral (1Tim. 3:2-3)
      2. Kehidupan rumah tangga (1Tim. 3:4-5)
      3. Kedewasaan (1Tim. 3:6)
      4. Reputasi (1Tim. 3:7-8)
      (Busenitz, “Training for Pastoral Ministry,” hal. 121).
      Khusus tentang kedewasaan, perlulah orang Kristen ketahui bahwa kedewasaan bukanlah suatu pemberian yang dibawa seseorang sejak ia lahir. Melainkan, seseorang mempelajarinya melewati suatu jangka waktu, dengan menerapkan prinsip-prinsip firman Tuhan ketika ia harus berjalan melalui lembah air mata dan kegagalan.
      C.H. Spurgeon berkata, “Griefs exalts us, and troubles lift us.” Sedangkan reputasi, adalah sesuatu yang dicapai oleh seseorang melalui kehidupan moral yang tidak bercacat, kehidupan rumah tangga tangga yang harmonis dan kedewasaan yang semakin matang. Proses pencapaian ke empat wilayah diatas, dimulai ketika seorang lahir baru dan berlanjut sepanjang umur hidupnya. Seperti rasul Paulus katakan dalam Kol. 1:28: “Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasehati dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” Kesempurnaan dalam Kristus itulah yang menjadi goal pertumbuhan orang Kristen.
      Melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus bukan hal yang mudah, namun orang-orang Kristen tidak perlu berkecil hati. Mengapa? Karena Kristus sendiri yang berjanji: “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Janji penyertaan Kristus bukan suatu janji yang kosong, karena selain Dia telah lahir dalam hidup kita (Mat. 1:23), tapi Dia juga Allah yang berkuasa.
      Sebelum memberikan Amanat Agung kepada murid-murid-Nya, Dia sendiri mengklaim: “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.” Ungkapan “sorga dan bumi” menyatakan wilayah kekuasaan Kristus yang begitu luas dan tanpa batas, sehingga tidak ada satu tempat di mana kuasa Kristus tidak bisa menjangkau. Kemanapun orang Kristen pergi memberitakan Injil, disitulah Kristus hadir dan menyatakan kuasa-Nya. •



Kembali ke atas    |    Artikel sebelumnya    |    Artikel selanjutnya    |    Index artikel

 
 

Hubungi Kami