Baptisan Percik

Oleh: Ev. Jon Hendri Foh

      “Apa bedanya orang Kristen Baptis dengan orang Presbiterian? Yang pertama adalah seorang wet calvinist, sedangkan yang kedua adalah dry calvinist.” Demikianlah sebuah lelucon berkelakar. Rupanya volume air (banyak atau sedikit) dalam ritual baptisan telah membagi kumpulan orang beriman menjadi dua kelompok yaitu golongan Baptis (01) yang melaksanakan baptisan selam dan golongan Presbiterian yang mempraktikkan baptisan percik.
      Sebenarnya cara baptisan (selam atau percik) tidak perlu menjadi suatu masalah yang diperdebatkan dan menghabiskan banyak energi jika gereja yang menjalankan baptisan selam dapat menerima dan mengakui bahwa cara percik pun merupakan cara baptisan yang sah. Namun kenyataannya tidak begitu. Seringkali kita mendengar ungkapan yang menyatakan bahwa baptisan percik itu tidak sah.
      Konsekuensinya, orang percaya yang sudah dibaptis percik dianggap belum mengalami upacara baptisan sama sekali karena dia tidak menjadi basah kuyup (baca: diselam) dalam proses pembaptisannya. Berdasarkan hal ini, kerapkali bila ada jemaat yang sudah dibaptis secara percik namun karena suatu alasan tertentu lalu pindah keanggotaan ke gereja yang memegang baptisan selam, maka ia akan diminta untuk dibaptis ulang dengan cara selam.
      Dari pihak gereja yang melakukan baptisan percik, mereka bisa menerima dengan tangan terbuka orang percaya yang sudah dibaptis secara selam, sehingga baptisan ulang sama sekali tidak diperlukan jika ada atestasi. Dengan demikian, cara selam dipandang sebagai salah satu cara baptisan yang sah di samping cara percik. Lain halnya dengan gereja yang menjalankan baptisan selam, mereka mempertahankan bahwa hanya selam saja satu-satunya cara baptisan yang sah.
      GKA Gloria adalah gereja yang melaksanakan sakramen baptisan dengan cara percik. Tentu ada landasan Alkitabiahnya mengapa cara ini yang dipraktikkan. Dalam tulisan ini akan dipaparkan beberapa alasan tersebut. Namun sebelum itu, ada baiknya jika kita mengetahui makna sakramen baptisan terlebih dulu.

Makna Baptisan
      Baptisan dan Perjamuan Kudus adalah sakramen yang ditentukan oleh Kristus untuk ditaati orang percaya. Kedua sakramen ini mempunyai makna rohani yang sangat dalam berkaitan dengan apa yang telah Allah kerjakan bagi keselamatan manusia berdosa melalui pribadi Yesus Kristus.
      Perjamuan Kudus bertalian dengan karya Kristus yang menjadikan diri-Nya sendiri sebagai korban penghapus dosa dunia ini. Tindakan menebus manusia berdosa menuntut kematian Kristus. Kematian-Nya di atas salib adalah akibat dari menanggung hukuman atas dosa manusia. Sebab itu, setiap kali perjamuan kudus dirayakan, sakramen ini membawa umat beriman untuk mengingat kembali akan tubuh Kristus yang telah dipersembahkan menjadi korban pendamaian dan juga akan darah kudus-Nya yang telah dicurahkan bagi pengampunan manusia berdosa.
      Jika perjamuan kudus berbicara tentang karya Tuhan Yesus dalam menggenapi rancangan keselamatan yang direncanakan Allah, maka baptisan kudus berbicara mengenai pekerjaan Roh Kudus yang menerapkan atau mengaplikasikan hasil karya penebusan Kristus terhadap orang percaya. Robert Rayburn mengatakan, “Seperti Perjamuan Kudus melambangkan pekerjaan Kristus, demikian juga baptisan melambangkan pekerjaan dari Roh kudus.” Dalam ordinasi yang pertama Allah berbicara kepada kita tentang darah pembasuh; dalam ordinasi kedua dibicarakan “penyucian kelahiran kembali dan pembaharuan oleh Roh Kudus.” (02) Jadi, dalam perjamuan kudus fokusnya adalah pada pengorbanan Kristus. Sedangkan dalam baptisan fokusnya adalah pada pelayanan Roh Kudus.
      Berbicara tentang baptisan, harus diketahui dengan jelas bahwa sakramen ini sama sekali tidak menyelamatkan orang berdosa. Imanlah satu-satunya sarana yang membawa efek keselamatan bagi kita. Rasul Paulus menegaskan bahwa “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman…” (Ef. 2:8; Bdk Rom. 10:9-10). Bagaimana iman dapat timbul dalam hati manusia? Ini terjadi karena pekerjaan Roh Kudus.
      Kembali Paulus menyatakan bahwa “…tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan,” selain oleh Roh Kudus” (1Kor. 12:3). Tentu yang dimaksud dengan “mengaku” di sini, bukan sembarang pengakuan, bukan “lip-service confession” melainkan pengakuan yang lahir dari hati yang sudah bertobat dan diperbaharui oleh Roh Kudus, dari hati yang beriman.
      Dengan kata lain, setiap orang yang mengaku dengan imannya bahwa Yesus adalah Tuhan atas hidupnya, maka pengakuan ini terjadi karena karya Roh Kudus. Anthony Hoekema mengatakan, “Since the statement, “Jesus is Lord,” is obviously an utterance of faith, we conclude that no one is able to believe in Christ apart from the power of the Holy Spirit.” (03)
      Baptisan juga tidak melahir-barukan orang berdosa. Pandangan Katolik mengajarkan tentang “Baptismal regeneration” yaitu suatu keyakinan bahwa sakramen baptisan pada dirinya sendiri memiliki kuasa untuk menyebabkan terjadinya peristiwa kelahiran baru pada orang yang dibaptiskan. (04)
      Konsep ini bertentangan dengan ajaran Alkitab yang jelas sekali menekankan kedaulatan karya Roh Kudus dalam peristiwa kelahiran kembali orang berdosa (Yoh. 3:5-8). Hanya Roh Kudus yang berkuasa melahirkan manusia berdosa menjadi satu pribadi yang baru di dalam Tuhan, bukan kuasa sakramen baptisan. Dengan demikian, maka “Baptism logically follows, not precedes, the new birth.” (05)
      Jika baptisan tidak menyelamatkan juga tidak melahir-barukan, lalu apa makna dan fungsinya? Baptisan adalah suatu tanda kelihatan (visible & external sign) dari peristiwa yang tidak kelihatan dalam proses keselamatan orang berdosa yang dikerjakan Roh Kudus. Yohanes pembaptis di padang gurun menyerukan “bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis…” (Mrk. 1:4). Pertobatan selalu mendahului baptisan. Pertobatan adalah suatu kondisi rohani yang tidak terlihat oleh mata manusia, namun jelas tidak tersembunyi di hadapan Allah. Manusia berdosa bisa bertobat bila ada pencerahan dari Roh Kudus sehingga ia mengenal diri dan menyadari dosa-dosanya.
      Kesadaran ini akan membawanya kepada Kristus untuk memperoleh pengampunan, penyucian dan hidupnya akan dipulihkan kembali ke dalam suatu relasi yang benar dengan Allah. Komitmen untuk memulai suatu kehidupan yang baru dalam ketaatan pada firman Tuhan akan hadir dalam diri orang yang bertobat. Semua hal-hal rohani ini bersifat invisible. Dan adalah kewajiban orang percaya untuk membuktikan bahwa semua ini telah terjadi dalam hidupnya melalui sakramen baptisan sebagai lambang yang kelihatan.
      Baptisan kudus menandakan bahwa kita telah menjadi milik Allah. Kita dipersatukan dengan Tuhan Yesus dalam kematian dan kebangkitan, dan karena itu kita masuk dalam persekutuan dengan Bapa, Anak dan Roh Kudus. Baptisan adalah pertanda hidup baru yang diciptakan oleh Roh Kudus dalam diri kita. Kita diselamatkan oleh iman, dan baptisan menandakan keselamatan itu dan penyucian dari dosa. Melalui baptisan kita dimasukkan ke dalam pola ketaatan yang baru, yaitu hidup yang memuliakan nama Tuhan. (06)
      Apakah setiap orang yang sudah dibaptis pasti mengalami perkara-perkara rohani di atas? Belum tentu. Mengapa? Karena ada banyak alasan yang menyebabkan seseorang memberi diri dibaptis selain alasan sebagai bukti pertobatan dan komitmen untuk hidup baru. Seorang pria yang belum kristen namun sangat mencintai gadis kristen, bisa saja mengikuti kelas katekisasi lalu dibaptis dengan tujuan utama agar dia bisa menikahi pacar idamannya itu tanpa dirinya mengalami pertobatan sejati. Jadi, orang yang dibaptis itu tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa dia sudah dilahirkan kembali hanya karena alasan bahwa dia telah menerima sakramen baptisan. Namun orang yang benar-benar mengalami kelahiran baru, perlu dan wajib menyatakan pertobatannya dengan cara menerima baptisan.
     Sakramen ini menjadi suatu ‘public testimony’ baginya yang menandakan bahwa dirinya adalah pengikut Kristus. Selain menjadi tanda, baptisan juga berfungsi sebagai meterai (seal) yang meneguhkan identitas orang percaya selaku pribadi yang sudah mengalami kelahiran baru dari kuasa Roh Kudus. Orang berdosa yang sungguh bertobat dan beriman kepada Allah adalah orang yang menerima Roh Kudus dalam hidupnya. Kehadiran Roh Kudus ini merupakan suatu meterai yang menjamin diri orang percaya sebagai milik kepunyaan Allah (Ef. 1:13-14). Hoekema berpendapat, “Baptism, therefore, does not automatically bring about regeneration, but it pictures (its function as a sign) and confirms (its function as a seal) that blessing.” (07)
      Sebagai kesimpulan pada bagian ini, dapat dikatakan bahwa baptisan selaku tanda kelihatan dan sebagai meterai adalah simbol yang mengacu pada karya penyucian Roh Kudus terhadap diri orang berdosa. Manusia yang mengalami pengudusan dari Roh Kudus juga sekaligus akan mengalami perdamaian dengan Allah, diangkat menjadi anak-Nya, dan dilahirkan kembali. (08)

Cara Pembaptisan
      Tentang cara pembaptisan (selam maupun percik), masing-masing pendukung memiliki berbagai alasan sebagai dasar acuan untuk menerapkan salah satu cara tersebut. Di bawah ini akan dikemukakan alasan-alasan mengapa metode baptisan percik yang dipraktekkan di GKA Gloria:

1. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa baptisan air adalah suatu tanda kelihatan dari karya Roh Kudus yang tidak kelihatan, yakni pekerjaan-Nya melahir-barukan orang berdosa. Baptisan air melambangkan baptisan Roh Kudus. Dalam Alkitab, air adalah simbol untuk melukiskan Roh Kudus (Yoh. 7:38-39). Air berfungsi untuk menyucikan, membasuh dan membersihkan sehingga noda dan kotoran menjadi hilang. Dengan demikian, maka baptisan air adalah lambang yang tepat untuk menyatakan baptisan Roh Kudus.
Alkitab juga mencatat bahwa karya Roh Kudus dalam kehidupan manusia selalu digambarkan sebagai ‘turun dari atas’ atau ‘dicurahkan dari atas’. Nabi Yoel yang bernubuat tentang hari Pentakosta, melukiskan bahwa pada hari itu Roh Allah akan dicurahkan ke atas manusia (Yoel 2:28-29). Ketika para rasul mengalami penggenapan nubuat ini, mereka semua dihinggapi oleh “lidah-lidah seperti nyala api” (simbol dari Roh Kudus) yang turun dari langit (Kis. 2:2-4). Pada saat Tuhan Yesus menerima baptisan air dari Yohanes maka segera setelah itu, Roh Kudus turun ke atas diri-Nya dalam bentuk burung merpati (Mat. 3:16, Mark. 1:10, Luk. 21-22). Peristiwa di rumah Kornelius juga menyaksikan hal yang sama. Saat Petrus sedang memberitakan firman Tuhan, “turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu.” (Kis. 10:44, 11:15).
Gerakan ‘turun ke atas’ atau ‘dicurahkan dari atas’ adalah suatu pola kerja Roh Kudus dalam membaptis orang percaya. Karena itu, “Jika pencurahan Roh Kudus ke atas orang-orang itu adalah merupakan penetapan baptisan Roh Kudus, bukankah baptisan air sangat tepat dilambangkan dengan pencurahan air ke atas orang percaya?” (09) Jadi, alasan kita menjalankan baptisan percik adalah karena berdasarkan metode kerja dari Roh Kudus sendiri.

2. Para penganut baptisan selam berkeyakinan bahwa kata Yunani untuk membaptis yaitu “baptizw” (baptizo) atau kata infinitive-nya “baptizein” (baptizein) selalu bermakna utama mencelupkan atau menenggelamkan ke dalam air. Berlandaskan arti hurufiah kata ini, mereka sangat menekankan bahwa makna literal ini dengan sendirinya sudah menunjukkan cara baptisan yang tidak lain adalah dengan diselamkan.
Apakah benar demikian (makna menentukan cara)? Pertama, yang harus diingat adalah arti kata “baptizw” dan “baptizein” tidak bersifat “single-meaning” melainkan “multy-meanings”. Selain, ‘mencelupkan’ kata-kata ini bisa juga mengandung arti as 'to wash', 'to bathe', and 'to purify by washing'. (10) Karena tidak bersifat “single-meaning” maka jika kelompok yang memegang baptisan selam telah memakai salah satu maknanya yaitu ‘mencelupkan’ untuk dijadikan penentu metode baptisan, maka golongan yang melaksanakan baptisan percik juga berhak mengambil makna lain dari kata ini (yaitu ‘to wash’ atau ‘to purify by washing’) untuk dipakai sebagai penentu cara baptisan.
Pada intinya, arti dari kata “baptizw“ dan “baptizein” tidak bisa menjadi argumentasi yang definitif untuk menentukan satu-satunya cara yang sah dalam pembaptisan. Fakta adanya aneka-arti untuk kata “baptizw“ dan “baptizein” menyatakan bahwa tidaklah memadai jika cara baptisan ditentukan hanya berdasarkan makna literal dari kata aslinya. Kedua, pada beberapa bagian Alkitab, kata “baptizw“ atau “baptizein” yang dipakai sangat jelas tidak mengandung arti menenggelamkan atau mencelupkan. Misalnya, Mark. 7:4, kata yang diterjemahkan oleh LAI sebagai “membersihkan dirinya” dalam bahasa Yunaninya adalah membaptis. Apakah setiap kali orang Farisi pulang dari pasar mereka pasti menenggelamkan dirinya ke dalam air? Tentu saja tidak. (11) Dalam Luk. 11:38 tercatat bahwa orang Farisi menjadi heran karena “Jesus did not first wash before the meal” (NIV). Terjemahan “wash” dalam bahasa Inggris ini adalah berdasarkan kata “membaptis” dalam bahasa Yunaninya.
Tentang ayat ini, Robert Rayburn berkomentar, “Dapatkah seseorang menjadi sedemikian bodoh dengan menganggap bahwa Yesus diharapkan menyelamkan diri-Nya sendiri secara keseluruhan ke dalam air setiap kali sebelum makan?” (12) Jadi, pada kedua bagian Alkitab ini, kata membaptis tidak dapat dipahami dengan pengertian hurufiah (mencelup, menenggelamkan) melainkan harus dimengerti secara simbolis yaitu pembasuhan, pembersihan atau penyucian. Ritual penyucian dalam Perjanjian Lama umumnya dilakukan dengan cara pemercikan darah (Ibr. 9:18-22). Sebab itu, penyucian yang dilakukan oleh Roh Kudus terhadap manusia berdosa dapat dilambangkan dengan cara baptisan secara percik.
Ketiga, dalam 1 Kor. 10:1-2, Paulus menulis bahwa umat Israel yang keluar dari tanah perbudakan Mesir adalah mereka yang telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Jelas yang dialami bangsa Israel dalam peristiwa ini adalah mereka berjalan melewati tanah kering. Jika dikatakan mereka telah dibaptis dalam lautan, kemungkinannya adalah mereka hanya terkena percikan air laut yang telah menjadi ‘tembok air’ di sebelah kanan dan kiri mereka (Kel. 14:21-22). Percikan air bisa terjadi karena angin yang menerpa ‘tembok air’ tersebut. Justru yang ditenggelamkan dalam air laut bukan bangsa Israel melainkan bangsa Mesir. (13) Berdasarkan realita sejarah umat Israel yang sudah dibaptis dalam laut namun sama sekali tidak dicelupkan atau ditenggelamkan melainkan kemungkinan besar hanya terkena percikan air laut, maka bisa dinyatakan bahwa sakramen baptisan dapat dilakukan dengan cara dipercik.

3. Pada umumnya kelompok yang melaksanakan baptisan selam berpendapat bahwa metode ini berdasarkan cara baptisan yang diterima Kristus. Karena Dia dibaptis secara selam maka pengikutnya harus mengikuti cara yang sama. Catatan Kitab Suci bahwa Yesus ‘keluar dari air’ (Mat. 3:16, Mark. 1:10) menjadi bukti tentang pembaptisan Kristus dengan cara diselam. ‘Keluar dari air’ berarti sebelumnya Ia masuk ke dalam air, lalu diselamkan dan muncul lagi ke atas permukaan air.
Sebenarnya, perkataan ‘keluar dari air’ (dari kata preposisi Yunani ‘apo’) ini tidak dengan sendirinya menunjukkan cara baptisan selam. ’Yesus keluar dari air’ tidak harus menyembul dari permukaan air, bisa juga naik dari dasar sungai ke tepian sungai/darat.” (14) Bisa jadi, Yesus hanya menjejakkan kakinya ke dalam sungai Yordan, lalu dengan posisi berdiri Yohanes Pembaptis mengambil air dan mencurahkannya ke atas kepala Kristus, kemudian Ia keluar dari air dan menginjakkan kaki-Nya di tepian sungai.
Bisa juga ada kemungkinan lain, Robert Rayburn berkata, “Sekalipun Yohanes dan mereka yang dibaptis hanya berada di paling tepi dari aliran air itu, dan tidak pernah meletakkan kaki mereka di dalamnya, ekspresi Yunani yang diterjemahkan dengan kata ‘keluar dari air’ masih tetap bisa dipakai. Itu berarti bahwa mereka pergi dari air itu.” (15) Singkatnya, kata ‘keluar dari air’ tidak dapat jadi alasan yang mutlak benar tentang cara selam sebagai metode pembaptisan yang sah.
Mungkinkah Yesus dibaptis secara percik? Dalam kehidupan dan pelayanan-Nya, Yesus memegang 3 jabatan yakni sebagai Nabi, Imam dan Raja. Menurut Robert Rayburn, selaku seorang Imam, Kristus mentaati peraturan tentang keimaman yang telah ditentukan dalam Perjanjian Lama. Peraturan ini bersangkut paut dengan proses pentahbisan yang dilakukan secara percik.
Orang Lewi adalah suku imamat. Kita dapat melihat ini dalam Bil. 4:3, 23, 30 dan 35, bahwa usia 30 tahun merupakan usia dari pengkhususan dan penyucian bagi seorang Lewi untuk tugas keimamannya. Kristus datang kepada Yohanes untuk dibaptiskan pada usia 30 tahun. Kemudian dalam Bil. 8:7 akan ditemukan bahwa petunjuk selanjutnya dari Allah kepada Musa berkenaan dengan pengkhususan orang Lewi: “Beginilah harus kau lakukan kepada mereka untuk mentahirkan mereka: percikkanlah kepada mereka air penghapus dosa.” (16) Tidak perlu diragukan lagi ini merupakan perintah yang benar dari Tuhan dan digenapi di dalam baptisan Kristus. Ia telah memberikan perintah ini kepada Musa. Kita boleh yakin bahwa Ia menggenapkannya di dalam diri-Nya sendiri. (17)

4. Teks Alkitab lainnya yang dipakai untuk mendukung metode baptisan selam adalah Yoh. 3:23. Dikatakan pada bagian ini bahwa Yohanes membaptis di dekat Salim ‘sebab disitu banyak air.’ Kata banyak air ini dianggap sebagai indikasi tentang baptisan selam (yang memang memerlukan banyak air). Tetapi benarkah demikian? Robert Rayburn berpendapat bahwa sebenarnya itu tidak dimaksudkan demikian. Karena kata aslinya bukan mengatakan ‘banyak air’ tetapi lebih tepat ‘beberapa air’ atau ‘beberapa mata air’. (Lagi pula) jarang sekali seseorang dapat menemukan sebuah mata air yang sedemikian besar untuk melakukan upacara baptisan selam…” (18)
Apakah Yohanes menjalankan baptisan selam? Menurut Mat. 3:5 “maka datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan dari seluruh daerah sekitar Yordan.” Ada yang memperkirakan dua juta jiwa yang dibaptis oleh Yohanes. Mungkin perkiraan ini terlalu banyak.
Rayburn menyatakan, kebanyakan orang yang konservatif memperkirakan angka-angka sekitar lebih dari seratus ribu orang. Dan semua pembaptisan ini terjadi dalam satu setengah tahun! Sama sekali lepas dari pembuktian Alkitab, akal sehat akan menuntut bahwa jumlah sedemikian banyak adalah di luar kemampuan seseorang untuk membaptis selam – itu berarti lebih dari dua ribu baptisan selam setiap hari! Ia akan menghabiskan seluruh hari setiap hari berdiri di dalam air, untuk waktu selama satu setengah tahun. (19)
Pertimbangan-pertimbangan yang diberikan oleh Rayburn ini memberi penjelasan alternatif bahwa Yoh. 3:23 dan pembaptisan yang dikerjakan Yohanes tidak harus mendukung cara baptisan selam.

5. Sering juga diajukan bahwa baptisan terhadap sida-sida dari Etiopia adalah secara selam karena dikatakan “…keduanya turun ke dalam air, baik Filipus maupun sida-sida itu, dan Filipus membaptis dia… dan…mereka keluar dari air” (Kis. 8:38-39). Argumentasi ini sangat menitikberatkan pada kata depan ‘(turun) ke dalam’ dan ‘keluar dari’. Pemakaian kata depan ini diyakini merupakan petunjuk mengenai cara baptisan.
Memperhatikan dengan teliti ayat ini, akan terlihat bahwa preposisi “eis” (ke dalam) diterapkan baik kepada Filipus maupun sida-sida Etiopia itu. Bila benar bahwa penggunaan “eis” adalah untuk mengindikasikan cara baptisan, maka konsekuensi logisnya akan membuat pembaptis dan yang dibaptis sama-sama terselam atau tercelup ke dalam air. (20)
Jelas hal ini tidak masuk akal. Lagi pula, dalam perjalanan itu, mereka sedang berada di tengah padang gurun. Apakah mungkin di daerah demikian ada sumber air seperti kolam yang cukup dalam untuk melakukan baptisan selam? Begitu juga penggunaan kata depan “eik” (keluar dari) tidak memberi pengertian tentang keluar dari permukaan air. Kata depan ini bisa berarti ‘pergi menjauh dari air.’ (21)
Peristiwa pembaptisan sida-sida Etiopia ini sama sekali tidak menjelaskan tentang cara baptisan baik selam ataupun percik. Jika mau menarik kesimpulan berdasarkan asumsi mengenai cara baptisan, nampaknya lebih masuk akal untuk menerima bahwa Filipus melakukan baptisan percik.

6. Pemegang baptisan selam selalu memakai perkataan rasul Paulus tentang dibaptis ke dalam kematian kristus, dikuburkan dan bangkit bersama-Nya (Rom. 6:3-4, Kol. 2:12) sebagai petunjuk eksplisit bertalian dengan cara pembaptisan. Ketika orang yang menerima sakramen baptisan diselamkan ke dalam air itu melambangkan kematian dan penguburannya bersama Kristus. Dan pada waktu ia muncul kembali dari dalam air, itu menandakan kebangkitannya dengan Kristus. Jadi, baptisan selamlah yang dipercayai sebagai simbol yang sangat cocok untuk melukiskan kebenaran yang dikatakan Paulus.
Pada hakekatnya teks dari Rom. 6:3-4 dan Kol. 2:12 ini tidak berbicara tentang metode pembaptisan. Yang dibahas adalah penyucian hidup orang percaya dari kuasa dosa. Karena orang percaya itu secara de jure sudah disalibkan bersama dengan Kristus, maka pada saat kini secara de facto ia harus menjalani kehidupan dengan tidak lagi membiarkan manusia lama berkuasa atas dirinya. Ia mesti mengalami “penanggalan akan tubuh yang berdosa” (Kol. 2:11). Ia harus hidup dalam kuasa kebangkitan Kristus yang akan memampukannya untuk mengalahkan kuasa dosa. Roma 6 dan Kolose 2 harus dibaca keseluruhan perikopnya supaya inti beritanya dapat dipahami dengan jelas.
Mengenai baptisan selam sebagai simbol yang tepat untuk menggambarkan kematian dan kebangkitan orang percaya bersama Kristus; kita dapat melihat, justru sebetulnya fakta penguburan Kristus akan menolak perlambangan dari simbol baptisan selam. Kita harus ingat bahwa tubuh Kristus tidak dikuburkan dengan cara ditanam atau dimasukkan ke bawah permukaan tanah. Tubuh-Nya dibaringkan dalam kuburan batu yang berada di atas permukaan tanah. Jika demikian, di mana letak paralelnya dengan proses baptisan selam?
Orang yang diselamkan adalah orang yang bergerak ke bawah permukaan air lalu muncul lagi ke permukaan. Penguburan dan kebangkitan Kristus tidak seperti ini, Ia berada terus di atas permukaan. Pemahaman ini kiranya dapat menyadarkan kita untuk tidak membangun teori tentang metode baptisan dengan berlandaskan ayat-ayat yang ‘silent’ terhadap masalah tersebut

7. Pada hari Pentakosta, terjadi pertobatan massal sebagai respon terhadap khotbah yang diberitakan oleh rasul Petrus. Ada 3.000 orang bertobat dan pada hari itu juga mereka dibaptiskan (Kis. 2:41). Mungkinkah 12 rasul yang ada bisa membaptis orang percaya sebanyak ini dalam satu hari? “Tidak cukup fasilitas untuk membaptis selam 3.000 orang pada hari itu di Yerusalem. Di Yerusalem tidak cukup air untuk membaptis semua ukuran orang. Bahkan dengan hanya 12 rasul yang membaptis, tidak cukup waktu untuk melakukan baptisan selam.” (22)

8. Di samping ke tujuh point pertimbangan di atas, masih ada lagi beberapa alasan praktis yang akan lebih mendukung pelaksanaan baptisan percik:
• Bagaimana membaptis orang yang sedang dalam kondisi sakit parah (tidak bisa bangun, kesadaran yang kadang ada kadang tidak?) Tentu akan sangat menyulitkan atau hampir tidak mungkin bila orang sakit harus dibaptis dengan cara selam. Jadi, baptisan selam terbukti tidak efektif untuk orang sakit.
• Bagaimana membaptis orang yang ada di daerah yang sangat dingin, di kutub misalnya (yang suhunya minus di bawah 0 derajat)? Jika selam adalah satu-satunya cara baptisan yang sah, maka orang percaya di daerah demikian kemungkinan besar tidak akan menerima baptisan.
• Bagaimana membaptis wanita yang sedang mengalami menstruasi bila ia harus diselamkan? Keadaan ini tidak akan menjadi masalah kalau dijalankan baptisan secara percik. (23)
• Bagaimana membaptis orang yang ada di daerah yang sangat sulit mendapatkan air? Pemutlakan baptisan selam yang membutuhkan begitu banyak air akan menjadi penghalang dalam menggenapi perintah Tuhan Yesus?

Kesimpulan
• Alkitab tidak pernah berbicara tentang cara pembaptisan. Sebab itu, tidak boleh ada satu cara yang dimutlakkan (baik selam atau percik atau pencurahan) dan tidak perlu ada klaim mengenai satu-satunya cara yang sah dalam menjalankan baptisan.
• Kita harus mengakui bahwa makna baptisan jauh lebih penting dari pada caranya. Persetujuan terhadap statement ini akan menghadirkan sikap yang tolerir (bisa menerima) terhadap cara apa pun yang diterapkan, asal saja baptisan itu memakai unsur air dan dilakukan dalam nama Allah Tri Tunggal: Bapa, Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19).
• Baptisan air adalah simbol atau tanda kelihatan dari baptisan Roh Kudus yang tidak kelihatan, di mana Ia berkarya melahirkan kembali orang berdosa secara rohani sehingga membuatnya menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Setiap orang yang memiliki pengalaman lahir baru, bertobat dan beriman adalah orang yang telah dibaptis oleh Roh Kudus. Selain menjadi tanda, baptisan air yang diterima dengan iman akan berfungsi sebagai meterai yang menyatakan kehadiran Roh Kudus yang memberikan jaminan keselamatan.
• Studi kata Yunani tentang baptisan (baptizo, baptizein) dan kata depan yang mengikutinya (apo, eis dan eik) tidak membawa kepada kesimpulan yang conclusive tentang metode baptisan selam. Sebab itu jangan menganggap bahwa cara ini lebih Alkitabiah dibandingkan dengan cara yang lain.
• Baptisan sebagai sakramen sama sekali tidak menyelamatkan. Seseorang diselamatkan Allah bukan karena dia sudah dibaptis. Namun sebaliknya, justru karena ia telah terlebih dahulu diselamatkan oleh Allah melalui anugerah-Nya yang diresponi dengan iman semata, maka baptisan menjadi suatu ‘public testimony’ (kesaksian di hadapan umum) tentang keselamatan yang telah ia miliki di dalam Kristus. •



Footnotes
01/ Selain gereja baptis, denominasi lain yang menerapkan baptisan dengan cara selam adalah gereja pantekosta, gereja kharismatik, dll.
02/ Robert G. Rayburn, Apa Itu Baptisan?, Terjemahan oleh Sutjipto Subeno & Ryanti Rachmadi (Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1991), h.14
03/ Anthony Hoekema, Saved by Grace (Michigan : Wm. B. Eerdmans Publishing Co, 1994), h.144
04/ Gordon R. Lewis & Bruce A. Demarest, Integrative Theology – Vol 3 (Michigan : Zondervan Publishing House, 1996), h.243. Mereka mencatat demikian, “Baptism, according to Rome, (1) remits the guilt of all prior sins, (2) removes the pollution of sin but not “concupiscence,” (3) delivers from eternal punishment, and (4) regenerates through the infusion of sanctifying grace” (Italiks ditambahkan penulis).
05/ Ibid., h.284
06/ R.J. Porter MA, Katekisasi Masa Kini (Jakarta : Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF, 1990), h.186
07/ Anthony Hoekema, Saved by Grace, h.109
08/ G.W. Bromiley, “Baptism” in Evangelical Dictionary of Theology, edt. Walter A. Elwell (Michigan : Baker Book House, 1994), h.113. Bromiley menulis : “When we come to the action itself, there are many different but interrelated associations. The most obvious is that of washing (Titus 3:5), the cleansing water being linked with the blood of Christ on the one side and the purifying action of the Spirit on the other (see 1 John 5:6,8), so that we are brought at once to the divine work of reconciliation. A second is that of initiation, adoption, or, more especially, regeneration (John 3:5), the emphasis again being placed on the operation of the Spirit in virtue of the work of Christ.”
09/ Robert G. Rayburn, Apa Itu Baptisan?, h.22
10/ Louis Berkhof, Systematic Theology (Michigan : Wm. B. Eerdmans Publishing Co, 1988), h.630
11/ Robert G. Rayburn, Apa Itu Baptisan?, h.27
12/ Ibid, h.28
13/ Ibid
14/ Buku Katekisasi Sinode Gereja Kristen Abdiel, h.51
15/ Robert G. Rayburn, Apa Itu Baptisan?, h.37
16/ Perintah ini (percikkanlah kepada mereka air penghapus dosa) sudah tentu hanya tepat bagi para imam dari dunia ini karena mereka adalah manusia berdosa adanya. Sehubungan dengan pribadi Kristus, tentu air yang dipercikkan kepada-Nya tidak untuk tujuan penghapusan dosa karena diri-Nya tidak berdosa. Yang menjadi tekanan Rayburn di bagian ini adalah pada tata cara pemercikkan sebagai bagian dari ritual dalam pentahbisan seseorang untuk memegang jabatan imam.
17/ Robert G. Rayburn, Apa Itu Baptisan?, h.34
18/ Ibid, h.35
19/ Ibid
20/ R.S. Rayburn, “Baptism, Modes of ” in Evangelical Dictionary of Theology, h.118
21/ Robert G. Rayburn, Apa Itu Baptisan?, h.42
22/ Ibid, h.60
23/ Point 1-3 diambil dari Buku Katekisasi Sinode Gereja Kristen Abdiel, h.52



Kembali ke atas    |    Artikel sebelumnya    |    Artikel selanjutnya    |    Index artikel

 
 

Hubungi Kami